Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Cara Pengendalian Gulma, Hama dan Penyakit Pada Tanaman Kedelai

Gambar. Lahan Penangkar Kedelai
Sekarang sedang di galakkan penangkaran kedelai, akan tetapi kendala yang di hadapi petani yaitu; gulma, hama dan penyakit tanaman kedelai berpotensi menurunkan kuantitas dan kualitas hasil benih. Ketiga faktor pengganggu tersebut dan cara penanggulangannya perlu diketahui oleh para penangkar benih kedelai.


Gulma pada Pertanaman Kedelai
Gulma adalah tanaman yang tidak dikehendaki yang tumbuh bersama tanaman kedelai yang sedang diusahakan, serta sisa-sisa tanaman sebelum pelaksanaan penangkaran benih. Tanaman-tanaman tersebut merupakan kompetitor atau pesaing dalam pemanfaatan air, zat hara tanah, sinar matahari, dan ruang di sekitar tanaman kedelai, bahkan berperan sebagai inang hama serta penyakit tertentu. Akumulasi dari tingkat persaingan oleh gulma tersebut tampak nyata di lahan. Pada tempat-tempat yang telah ditumbuhi gulma, tanaman kedelai tidak dapat tumbuh dengan baik. Menurut Soetikno S. Sastroutomo (1990) penurunan hasil akibat kompetisi gulma pada pertanaman kedelai dapat mencapai 10-50%.
Ragam dan pertumbuhan gulma di setiap lahan dipengaruhi oleh keadaan, milieu dan perlakuan lahan. Gulma yang biasa tumbuh pada lahan pertanaman kedelai terdiri atas lebih dari 56 macam, meliputi jenis rerumputan, teki-tekian, dan jenis gulma berdaun lebar. Pada lahan dengan indeks pertanaman 300% atau tidak mengalami masa istirahat lama, ragam dan jumlah gulma relatif sedikit. Sebaliknya, pada lahan yang mengalami masa istirahat lama (bero), ragam dan jumlah gulma relatif banyak. Beberapa jenis gulma yang dominan pada pertanaman kedelai antara lain adalah Amaranthus sp. (bayam), Digitaria ciliaris(rumput jampang), Echinochloa colonum (rumput jejagoan), Eragrotis enioloides(rumput bebekan), Cyperus kyllingia (rumput teki), Cyperus iria (rumput jeking kunyit), Portulaka sp. (krokot), Ageratum conyzoides (wedusan), Molluge penaphylla (daun mutiara), dan Mimosa pudica (puteri malu).
Pada prinsipnya, pengendalian gulma dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, biologis, dan khemis. Pengendalian gulma pada penangkaran benih kedelai ditekankan pada perlakukan kultur teknis dan cara mekanis. Oleh karena itu, pengolahan tanah dan perlakukan penyiangan tanaman serta roguing perlu dilakukan secara intensif.
Hama Tanaman Kedelai
Jenis hama yang biasa menyerang tanaman kedelai relatif banyak, baik yang berpotensi merusak tanaman dalam katagori ringan hingga berat, mengakibatkan penurunan produksi, dan bahkan mengakibatkan tanaman fuso (tidak menghasilkan).
I. Hama Perusak Bibit
a. Lalat Kacang
Lalat kacang merupakan hama penting pada tanaman kedelai. Hama ini dikenal dengan nama Agromyza phaseoli, Ophiomya phaseoli, Melanagromyza phaseoliatau Beanfly. Pada umumnya, lalat kacang menyerang tanaman kedelai muda yang berumur antara 4-14 hari setelah tanam, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Tanaman inang hama ini antara lain kacang hijau, kacang jogo, kacang aci, kacang tunggak, kacang hiris, kadang bedog, orok-orok dan beberapa tumbuhan liar.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan lalat kacang adalah terdapatnya bintik-bintik putih pada keping biji, daun pertama, atau daun kedua, yakni bekas tusukan alat peletak telur. Gejala yang lain adalah terdapat liang berupa alur atau garis lengkung berwarna coklat, bekas gerekan larva.
Alur gerekan larva dari keping biji ke pangkal akar berupa spiral. Serangan larva lalat kacang menyebabkan tanaman kedelai layu, mengering, dan mati. Serangan pada tanaman yang berumur lebih dari sepuluh hari mengakibatkan tanaman kerdil dan daun berwarna kekuning-kuningan.
b. Penggerek Batang
sampai saat ini penggerek batang bukan merupakan hama penting pada tanaman kedelai. Hama ini juga dikenal dengan nama Agromyza sojae, Melanogromyza sojae, stem fly dan stem borer. Pada umumnya penggerek batang menyerang tanaman muda. Tanaman inang hama ini antara lain kacang hiris, kacang uci, dan kacang hijau.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penggerek batang adalah terdapatnya bintik-bintik putih pada daun tanaman muda, tempat imago meletakkan telurnya. Kerusakan lebih lanjut berupa lubang gerekan oleh larva pada daun, tangkai daun, dan batang. Kadang ranting yang digerek menjadi patah.
c. Penggerek Pucuk
Penggerek pucuk juga dikenal dengan nama Agromyza dolichostigma, Melanogromyza dolichostigma dan shoot borer. Hama ini bukan merupakan hama yang penting, menyerang kedelai yang berumur antara 4-8 minggu, dan selalu ditemukan di daerah sentra kedelai. Tanaman inang hama ini antara lain kacang tanah, kacang hijau dan kacang tunggak.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penggerek pucuk adalah terdapatnya bekas tusukan alat peletak telur pada permukaan daun bagian atas. Selanjutnya, terdapat lubang gerekan larva pada daun, tulang daun, tangkai daun dan pucuk daun. Daun pucuk menjadi layu, mengering, dan mati, kemudian terbentuk banyak cabang baru namun kurang produktif.
Pengendalian hama perusak bibit dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: Penanaman penangkaran benih kedelai secara serempak; sanitasi kebun,roguing tanaman yang menunjukkan gejala sakit; dan penyemprotan dengan larutan insektisida, bila intensitas serangan pada tanaman yang berumur kurang dari sepuluh hari mencapai 2% atau lebih.
II Hama Perusak Daun
Beberapa jenis hama yang menyerang daun tanaman kedelai adalah sebagai berikut:
a. Kumbang Daun Kedelai
Kumbang daun kedelai dikenal dengan nama Phaedonia inclusa; wereng kedelai, dan soybean leaf beetle. Hama ini merupakan hama penting pada pertanaman kedelai dan terutama ditemukan di sentra produksi kedelai. Hama menyerang tanaman sejak tanaman muncul diatas permukaan tanah hingga panen. Tanaman inang hama ini berupa tumbuhan liar, antara lain Desmodium ovalivalium, D. Trifolium, D. Gyroides, dan Pueraria phaseolides.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini terlihat pada pucuk tanaman, daun, bunga dan polong. Serangan pada tanaman muda dapat mengakibatkan kematian. Serangann pada fase selanjutnya, mengakibatkan terganggunya pembentukan bunga, pembentukan polong, dan pengisian biji sehingga menurunkan kuantitas dan kualitas biji kedelai.
b. Ulat Grayak
Ulat grayak dikenal dengan nama Spodoptera litura, Prodenia litura dan Army Worm. Hama ini dikenal polifag dan menyerang tanaman pada berbagai fase pertumbuhan. Tanaman inang hama ini antara lain tembakau, kacang tanah, ketela rambat, cabai, bawang merah, kacang hijau, jagung dan lain-lain.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan ulat ini adalah daun tanaman habis (hanya tersisa tulang daun), polong muda rusak, atau seluruh tanaman rusak. Gejala yang nampak tergantung pada jenis tanaman yang diserang dan intensitas serangan larva muda serta larva dewasa.
c. Kumbang Tanah Kuning
Kumbang tanah kuning dikenal dengan nama Longitarsus suturellinus, Insect Feeding, Flea Beetle, dan Kumbang Longitarsus. Hama ini juga merupakan hama penting pada pertanaman kedelai dan menyerang tanaman sejak benih hingga pembentukan daun terakhir. Tanaman inang hama ini antara lain kacang hijau, kacang panjang dan kacang tunggak.
Gejala kerusakan akibat serangan kumbang tanah kuning adalah terdapatnya lubang-lubang kecil bekas gigitan serangga pada keping biji, daun muda, pucuk, atau cabang tanaman.
d. Ulat Jengkal
Ulat jengkal juga dikenal dengan nama Plusia chalcites, Green Semilooper atauUler Kilen. Hama ini menyerang daun tanaman yang agak tua. Tanaman inang hama ini antara lain kentang, tembakau, kacang hijau, dan tanaman kacang-kacangan lainnya.
Gejala kerusakan akibat serangan ulat jengkal adalah kerusakan daun dari arah pinggir. Serangan berat mengakibatkan kerusakan daun hingga hanya tersisa tulang-tulang daun.
e. Ulat Penggulung Daun
Ulat penggulung daun dikenal dengan nama Lamprosema indicata atau leaf Roller Insect. Serangga ini menyerang daun tanaman yang berumur 3-4 minggu setelah tanam. Tanaman inang hama ini antara lain kacang hijau, kacang polo, kacang panjang, kacang tanah dan tanaman penyubur tanah Clopogonium sp.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan ulat penggulung daun adalah daun terlihat menggulung dengan bagian atas merekat. Jika dibuka, pada bagian dalam terlihat bahwa tulang daun telah dimakan ulat.
f. Ulat Pelipat Daun
Ulat pelipat daun juga dikenal dengan nama Stomopteryx subsecivella, Biloba subsecivella atau Aproaerema nerteria. Tanaman inang hama ini adalah tanaman kacang tanah, kacang hijau dan kacang tunggak.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah pinggiran helaian daun merekat. Larva tinggal di daun yang merekat tersebut dan merusak jaringan sepanjang tulang daun.
Pengendalian hama perusak daun dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain sebagai berikut:
  1. Penanaman serentak sehingga periode vegetatif terjadi secara serempak
  2. Pengolahan tanah secara baik untuk mematikan hama yang berada di dalam tanah
  3. Pemusnahan kelompok telur yang ditemukan
  4. Pengamatan dini untuk menentukan penanggulangan dengan insektisida
Batas ambang ekonomi penggunaan insektisida untuk menanggulangi ulat grayak, ulat jengkal, ulat penggulung daun, ulat pelipat daun, dan kumbang tanah kuning adalah 58 ekor instar 1 atau 32 ekor instar 2 atau 17 ekor instar 3 per 12 tanaman. Batas ambang ekonomi penggunaan insektisida untuk menanggulangi kumbang kedelai adalah adanya intensitas serangan lebih dari 2 % pada umur tanaman 45 hari setelah tanam.
III. Hama Perusak Polong
Beberapa jenis hama yang sering ditemukan merusak polong tanaman kedelai adalah sebagai berikut:
a. Penggerek Polong
Penggerek polong dikenal dengan nama Etiella zinckenella, E. Hobsoni, Pod Borer, atau Lima Bean Borer. Hama ini merupakan hama utama pada kedelai, selain kumbang kedelai. Tanaman inang hama ini antara lain Crotalaria strata,orok-orok, kacang tunggak, kacang krotok, dan Teprosia candida.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas jalan masuk larva ke dalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gereka terdapat butir-butir kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa biji terbalut benang pintal.
b. Kepik Polong
kepik polong juga dikenal dengan nama Riptortus linearis, Pod Sucking Bug, atau penghisap polong. Tanaman inang hama ini antara lain Crotalaria, Tephrosia, Acacia villasa, dadap, dan keluarga Solanaceae.
Serangan kepik polong pada polong muda menyebabkan biji kempis dan kadang-kadang polong gugur. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan polong menyebabkan biji dan polong kempis, kemudian mengering. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji busuk dan menghitam. Serangan terhadap polong tua menyebabkan bintik hitam pada biji.
c. Kepik Hijau
kepik Hijau dikenal dengan nama Nezara viridula, Green Stink Bug, dan Lembing Hijau. Hama ini merupakan salah satu hama utama pada tanaman kedelai dan bersifat polifag. Tanaman inang hama ini antara lain padi, kacang hijau, tanaman kacang-kacangan, orok-orok dan kentang.
Nimfa dan imago merusak polong dan biji kedelai dengan cara mengisap cairan biji. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan polong dan perkembangan biji menyebabkan polong dan biji kempis, kemudian mengering. Serangan terhadap polong muda menyebabkan biji kempis dan seringkali polong gugur. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji menghitam dan busuk.
Pengendalian hama perusak polong dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain pergiliran tanaman, penanaman serempak, dan pengamatan secara intensif sebelum dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida akan cukup efektif secara ekonomi jika intensitas serangan penggerek polong lebih dari 2 % atau jika ditemukan sepasang populasi penghisap polong dewasa atau kepik hijau dewasa pada umut 45 hari setelah tanam.
IV. Hama Kutu
Hama kutu yang sering ditemukan menyerang pertanaman kedelai antara lain sebagai berikut:
a. Kutu Kebul
Kutu kebul juga dikenal dengan nama Bemisia tabacci dan Whitefly. Hama ini berpotensi menjadi hama utama pada tanaman kedelai. Tanaman inang ini antara lain tanaman jenis Leguminosae, semak-semak (Desmodium), tanaman pakan ternak, dan tanaman kacang-kacangan. Kutu kebul juga berperan sebagai pengantar virus mosaik kuning (Yellow Mosaic Virus) yang merusak tanaman kedelai.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan kutu kebul adalah terdapatnya kutu-kutu berwarna pucat sampai kuning kehijauan pada bagian bawah daun atau daun pucuk. Kadang-kadang juga terdapat cendawan jelaga yang hidup dari ekskreta kutu yang berupa embun madu. Serangan berat menyebabkan daun tanaman tampak terhambat pertumbuhannya, mengerupuk, dan lebih kaku.
b. Kutu Aphis
Kutu aphis juga dikenal dengan nama Aphis sp., Aphid atau secara umum disebut kutu. Kutu aphis menyerang daun muda pada berbagai jenis tanaman antara lain kacang-kacangan, terutama pada akhir musim hujan dan musim panas. Serangan kutu aphis terhadap daun tanaman muda menyebabkan daun menjadi kerdil dan lebih banyak polong yang kurang berisi.
Penyakit Tanaman Kedelai
Beberapa jenus penyakit yang sering ditemukan menyerang pertanaman kedelai adalah sebagai berikut:
1. Karat Kedelai
Penyakit karat kedelai disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi, Uromuces sojae, Uredo sojae, P. Sojae, P. Vignae, P. Crotalaria, Phusopella concors, Rust Disease, atau Soybean Rust. Inang cendawan-cendawan tersebut antara lain tanaman komak, bengkuang, kacang krotok, kacang polong, kacang kapri, kacang panjang, dan kacang asu. Penyakit karat kedelai biasanya mulai menyerang pada saat tanaman berumur 3-4 minggu setelah tanam.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penyakit karat kedelai adalah terdapatnya bintik-bintik kecil yang kemudian berubah menjadi bercak-bercak berwarna coklat pada bagian bawah daun, yaitu uredium penghasil uredospora. Serangan berat menyebabkan daun gugur dan polong hampa.
Pengendalian penyakit karat kedelai dapat dilakukan dengan beberapa cara. Oleh karena intensitas serangan penyakit ini dipengaruhi oleh kelembaban, curah hujan, intensitas sinar matahari, dan kerapatan daun tanaman; maka perlu digunakan varietas kedelai yang toleran antara lain Sompo, Kerinci, Polosari, dan Tambora, terutama di daerah kronis. Pengendalian juga dilakukan dengan mengatur jarak tanam dan perlakukan budidaya tanaman secara benar. Jika dipandang perlu, juga dapat dilakukan pengendalian dengan penyemprotan fungsisida.
2. Kerdil Kedelai
Kerdil kedelai atau Soybean Stunt disebabkan oleh Soybean Stunt Virus (SSV)yang ditularkan oleh Aphis glycines dan A. Craccivora atau melalui benih kedelai. Tanaman inang virus kerdil kedelai sangat banyak sehingga mudah tersebar.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penyakit kerdil kedelai adalah tanaman tumbuh kerdil, pada helai daun tampak adanya mosaik, daun agak menggulung dan keriput, dan tulang daun terang (vein clearing). Gejala khas yang menunjukkan adanya serangan penyakit ini adalah terdapatnya belang coklat yang konsentris pada kulit biji yang terserang virus.
3. Mosaik Kedelai
Penyakit mosaik kedelai atau Soybean Mosaik disebabkan oleh virus mosaik kedelai atau Soybean Mosaik Virus (SMV). Virus ini dapat ditularkan melalui benih,Aphis glycines, serta Myzus persicae.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penyakit mosaik kedelai adalah daun melilit, melengkung, tulang daun jernih (vein clearing), mosaik, berwarna lebih tua dibandingkan dengan daun yang sehat, dan rapuh. Gejala khas yang nampak pada kulit biji yang terserang virus adalah terdapatnya belang coklat yang radial.
4. Mosaik Kuning Kedelai
Penyakit mosaik kuning kedelai atau Soybean Yellow Mosaik disebabkan oleh virus mosaik kuning kedelai atau Soybean Mosaik Virus (SYMV). Virus ini ditularkan oleh Aphis glycines. Tanaman inang virus ini adalah kacang tanah.
Tanaman yang terserang penyakit mosaik kuning kedelai menunjukkan perubahan warna daun menjadi belang hijau kuning secara tidak merata pada seluruh permukaan daun.
5. Katai Kedelai
Penyakit katai kedelai dikenal dengan nama Indonesia Soybean Dwarf Virus (ISDV). Penyakit ini ditularkan oleh Aphis glycines.
Serangan penyakit katai kedelai menyebabkan batang tanaman dan ruas buku (internodia) memanjang, daun tanaman berukuran kecil, keriput, rapuh, dan berwarna lebih tua dibandingkan dengan daun yang sehat.
Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh virus dilakukan dengan menerapkan prinsip pengendalian terpadu melalui beberapa cara antara lain penggunaan benih yang sehat dan bebas virus, pelaksanaan tehnik budidaya tanaman secara sehat, dan penyemprotan dengan insektisida untuk menekan perkembangan aphis.
Hama Gudang
Hama yang menyerang benih kedelai selama di gudang penyimpanan terdiri dari beberapa jenis antara lain Bruchus chinensis L. Hama gudang ini dikenal dengan nama Kumbang Bruchus. Hama ini berbentuk oval, kepala meruncing, moncong agak pendek, bagian tubuh lebar, paha kaki belakang membesar, warna sayap luar coklat kekuningan dan ukuran tubuh sekitar 5-6 mm. Serangga aktif pada siang hari. Larva yang baru menetas menggerek biji kulit kedelai. Kumbang bruchus hidup dengan leluasa jika gudang penyimpanan benih kotor.
Gejala serangan kumbang bruchus pada biji kedelai dikenali dengan adanya lubang-lubang pada butiran kedelai. Biji kedelai yang terserang bruchus juga merupakan tempat berlindung serangga. Kadang-kadang tampak serangga keluar dari dalam lubang gerekan.
Pengendalian hama kumbang bruchus dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan gudang dan dengan cara fumigasi, antara lain menggunakan methyl bromida sesuai petunjuk teknis.

Cara Budidaya Tomat

Proses budidaya yang dilakukan terdiri dari persemaian, pengolahan tanah, pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP), penanaman, penyulaman, penyiraman, pemasangan ajir, pengikatan, pemupukan, penyiangan, perempelan dan pengendalian hama dan penyakit.




1)  Persemaian

Benih dalam persemaian yang digunakan oleh responden menggunakan benih berlabel yang di beli di toko sarana produksi. Benih tomat disemaikan dahulu sebelum ditanam pada bedengan yang tetap. Bedengan persemaian dibuat dengan ukuran lebar antara 0,8-1,2 m dengan panjang sekitar 2-3 m, dan tinggi sekitar 20-25 cm. Jarak antarbarisan adalah 5 cm. Bedengan yang telah dibentuk diberi pupuk kandang seminggu sebelum tanam sebanyak 5 kg per m2 dan pupuk Urea dua hari sebelum tanam sebanyak 30 g per m2. Setelah bedengan persemaian siap diolah, bibit tomat dapat segera disebar. Untuk satu ha pertanaman, benih yang dibutuhkan adalah sekitar 300 – 400 gram. Pada persemaian diberi lindungan yang dapat berupa atap plastik atau pelepah pisang. Persemaian disiram setiap pagi dan sore. Benih yang telah berumur sebelas hari dipindahkan kedalam bumbungan yang telah di isi media tanam.  benih dalam bumbungan dipelihara dengan penyiraman dan pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida setengah dosis. Setelah benih berumur 30-35 hari atau setelah muncul daun 5-6 helai dapat di pindahkan kelapangan.

2)  Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dilakukan bersamaan dengan penyiapan benih tomat. Pertama-tama dilakukan pencakulan tanah, tanah lalu diangin-anginkan selama 15 hari dengan tujuan gas-gas beracun hilang dari tanah. Selanjutnya di buat bedengan dengan lebar 100 cm – 120 cm, tinggi 30 cm – 40 cm dan jarak antar bedengan 30 cm – 40 cm.

3) Pemasangan MPHP

Mulsa dipasang ketika matahari sedang bersinar dengan teriknya, sehingga mulsa mudah memuai dan akan menutup rapat bedengan. Mulsa dipasang dengan bagian perak menghadap ke atas, sehingga dapat membantu pemantulan cahaya matahari yang bisa berfungsi sebagai sumber cahaya bagi daun-daun tomat di bagian bawah untuk melakukan fotosintesis.

4) Penanaman

Lubang penanaman segera dibuat di atas bedengan tersebut dengan luas sekitar 15-20 cm sedalam 70-80 cm. Agar tanah cukup subur, perlu ditambahkan pupuk kandang sebanyak untuk setiap lubang. Benih yang siap di tanam ialah benih yang sehat dan telah berusia antara 30 – 35 hari dengan daun sekitar 5 – 8 helai. Jarak tanam yang digunakan ialah 50 – 60 cm dengan jumlah 1 benih per lubang tanam.

5) Penyulaman

Benih yang baru ditanam dilapangan terkadang tidak semuanya dapat bertahan dan tumbuh menjadi dewasa. Karena itu penyulaman penting dilakukan untuk mengganti benih yang mati di lapangan. Benih yang digunakan dalam penyulaman adalah benih yang seumur dengan benih yang telah di tanam agar pertumbuhan tanaman dilapangan tetap seragam. Penyulaman sering dilakukan pada umur 7 – 10 hari setelah tanam. Adapun tanaman yang mati lebih dari umur 20 hari setelah tanam, responden sering menyulamnya dengan tanaman yang lebih muda dikarenakan apabila menyulam dengan tanaman yang seumur sering mati.

6) Penyiraman

Responden melakukan penyiraman hanya dilakukan apabila keadaan cuaca menjadi sangat panas. Cuaca panas menyebabkan tanah menjadi kering dan tanaman tidak cukup mendapat air tanah. Penyiraman dilakukan dengan hati-hati agar air siraman tidak mengenai daun dan buah tomat, tetapi hanya mengenai batang dan akar. Sebaliknya pada saat musim hujan, di sekitar lahan yang ditanami tomat, dibuatkan saluran drainase supaya air hujan dapat segera mengalir karena tomat paling tidak tahan genangan air.

7) Pemasangan ajir

Setelah tanaman tomat berumur satu minggu responden melakukan pemasangan ajir/lanjaran (tinggi ± 200 cm) dan diikat antarujungnya sehingga membentuk segitiga sama kaki.

8) Pengikatan

Responden melakukan pengikatan batang tanaman pada ajir dilakukan setiap minggu pada tanaman tomat yang berumur 3 – 4 minggu sampai pertumbuhan tanaman terhenti. Pengikatan ini bertujuan untuk mencegah kerebahan tanaman tomat dan untuk mempermudah perawatan.

9) Pemupukan

Pemupukan tomat apel dan tomat sayur apabila menggunakan MPHP maka pemberian pupuk an-organik dan pupuk organik diberikan semuanya pada saat pembentukan bedengan, semua pupuk dicampur merata di atas bedengan pertanaman, kemudian bedengan di tutup dengan MPHP agar tidak cepat menguap atau tercuci air. Sekalipun tanaman tomat apel dan tomat sayur sudah dipupuk total pada saat akan memasang MPHP, namun untuk menyuburkan pertumbuhan yang prima dapat diberi pupuk tambahan (susulan).

10) Perempelan

Responden melakukan penyiangan 3 – 4 kali atau tergantung dengan kondisi lahan. Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan tangan langsung atau dengan alat bantu berupa sabit atau cangkul. Penyiangan mempunyai tujuan untuk membersihkan gulma untuk mengurangi persaingan dalam penggunaan unsur-unsur biotik bagi pertumbuhan tanaman dan mencegah penularan penyakit dari gulma.

11)  Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan pestisida nabati pada tanaman tiap satu minggu sekali atau lebih tergantung kondisi tanaman. Pestisida nabati yang digunakan bervariasi tergantung hama/penyakit yang menyerang. Dosisnya 10 ml tiap satu liter air atau dapat ditambah tergantung tingkat kerusakan yang timbul pada tanaman.

Beberapa hama dan penyakit yang merusak tanaman tomat antara lain :

   a)  Ulat buah (Helionthis armigera)

Hama ini menyerang pada buah yang masih muda sehingga jika buah sudah tua tampak berlubang banyak dan membusuk. Pengendalian hama ini dilakukan dengan pembersihan gulma di sekitar tanaman tomat dan penyemprotan pestisida nabati berbahan dasar cabe.

   b) Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

Gejala yang ditimbulkan hama ini adalah terpotongnya tanaman muda pada bagian pangkal batang. Pengendaliannnya dengan pendangiran yang teratur, dan penyemprotan pestisida nabati cabe terutama dilakukan pada pagi hari.

   c) Belalang

Hama ini menyerang daun tanaman tomat yang ditandai dengan bekas gigitan pada ujung-ujung daun. Hama ini dikendalikan dengan penyiangan yang teratur dan penyemprotan pestisida nabati jarak.

   d) Busuk daun (Phythoptora investans)

Penyakit ini paling banyak dijumpai pada budidaya tanaman tomat di dataran tinggi. Gejala awal berupa bercak kebasahan pada tepi atau tengah daun kemudian melebar sampai daun berwarna coklat kehitaman. Bercak dikelilingi oleh spora berwarna putih kelabu. Kerusakan biasanya menyebar ke bagian batang, tangkai, dan buah tomat. Penyakit ini akan cepat menular apabila muncul kabut atau hujan lebat.

Pengendaliannya dengan perempelan daun yang telah terinfeksi, mencabut dan membuang tanaman yang telah rusak berat, dan penyemprotan pestisida nabati campuran antara ekstrak daun nimba, jarak, dan daun suren atau dengan pestisida nabati jahe. Apabila penggunaan pestisida organik ini hasilnya kurang optimum maka biasanya untuk mengurangi kerugian terpaksa digunakan pestisida kimia.

12)         Panen

Tomat dapat dipanen ± 75 hari setelah tanam. Panen dilakukan pada buah tomat yang sudah masak kriteria masak petik yang optimal antara lain kulit buah berwarna kekuningan, bagian tepi daun tua telah mengering, dan batang tanaman telah menguning atau mengering. Secara umum pemanenan di Desa Pasawahan dilakukan sampai 16 kali dengan interval panen tiap 3 – 4 hari sekali. 

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN PADI SAWAH

Penanganan pasca panen padi meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu; penentuan saat panen, pemanenan, penumpukan sementara di lahan sawah, pengumpulan padi di tempat perontokan, penundaan perontokan, perontokan, pengangkutan gabah ke rumah petani, pengeringan gabah, pengemasan dan penyimpanan gabah, penggilingan, pengemasan dan penyimpanan beras.

A. Penentuan Saat Panen

Penentuan saat panen merupakan tahap awal dari kegiatan penanganan pasca panen padi. Ketidaktepatan dalam penentuan saat panen dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang tinggi dan mutu gabah/beras yang rendah. Penentuan saat panen dapat dilakukan berdasarkan pengamatan visual dan pengamatan teoritis.

1) Pengamatan Visual
Pengamatan visual dilakukan dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan lahan sawah. Berdasarkan kenampakan visual, umur panen optimal padi dicapai apabila 90 sampai 95 % butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut akan menghasilkan gabah ber-kualitas baik sehingga menghasil-kan rendemen giling yang tinggi.

2) Pengamatan Teoritis
Pengamatan teoritis dilakukan dengan melihat deskripsi varietas padi dan mengukur kadar air dengan moisture tester. Berdasar-kan deskripsi varietas padi, umur panen padi yang tepat adalah 30 sampai 35 hari setelah berbunga merata atau antara 135 sampai 145 hari setelah tanam. Berdasarkan kadar air, umur panen  optimum dicapai setelah kadar air gabah mencapai 22 – 23 % pada musim kemarau, dan antara 24 – 26 % pada musim penghujan (Damardjati, 1974; Damardjati et al,1981).

B. Pemanenan

Pemanenan padi harus dilakukan pada umur panen yang tepat, menggunakan alat dan mesin panen yang memenuhi persyaratan teknis, kesehatan, ekonomi dan ergonomis, serta menerapkan sistem panen yang tepat. Ketidaktepatan dalam melakukan pemanenan padi dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang tinggi dan mutu hasil yang rendah. Pada tahap ini, kehilangan hasil dapat mencapai 9,52 % apabila pemanen padi dilakukan secara tidak tepat.

1) Umur Panen Padi
Pemanenan padi harus dilakukan pada umur panen yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
   (a) 90 – 95 % gabah dari malai tampak kuning.
   (b) Malai berumur 30 – 35 hari setelah berbunga merata.
   (c) Kadar air gabah 22 – 26 % yang diukur dengan moisture tester.

2) Alat dan Mesin Pemanen Padi
Pemanenan padi harus meng-gunakan alat dan mesin yang memenuhi persyaratan teknis, kesehatan, ekonomis dan ergo-nomis. Alat dan mesin yang digunakan untuk memanen padi harus sesuai dengan jenis varietas padi yang akan dipanen. Pada saat ini, alat dan mesin untuk memanen padi telah berkembang mengikuti berkembangnya varietas baru yang dihasilkan. Alat pemanen padi telah berkembang dari ani-ani  menjadi sabit biasa kemudian menjadi sabit bergerigi dengan bahan baja yang sangat tajam dan terakhir telah diintroduksikan reaper, stripper dan combine harvester.

Berikut ini adalah cara-cara pemanen padi dengan menggunakan ani-ani, sabit biasa/bergerigi, reaper dan stripper.
(a) Cara Pemanenan Padi dengan Ani-ani.
Ani-ani merupakan alat panen padi yang terbuat dari bambu diameter 10 – 20 mm, panjang ± 10 cm dan pisau baja tebal 1,5 – 3 mm. Ani-ani dianjurkan digunakan untuk memotong padi varietas lokal yang berpostur tinggi. Pemanenan padi dengan ani-ani dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  •   Tekan mata pisau pada malai padi yang akan dipotong.
  •   Tempatkan malai diantara jari telunjuk dan jari manis tangan kanan.
  •   Dengan kedua jari tersebut tarik malai padi ke arah pisau, sehingga malai terpotong.
  •   Kumpulkan di tangan kiri atau masukkan kedalam keranjang.

(b) Cara Pemanen Padi dengan Sabit
Sabit merupakan alat panen manual untuk memotong padi secara cepat. Sabit terdiri 2 jenis yaitu sabit biasa dan sabit bergerigi. Sabit biasa/ bergerigi pada umumnya digunakan untuk memotong padi varietas unggul baru yang berpostur pendek seperti IR-64 dan Cisadane. Penggunaan sabit bergerigi sangat dianjurkan karena dapat menekan kehilangan hasil sebesar 3 % (Damardjati et al, 1989; Nugraha et al, 1990). Spesifikasi sabit bergerigi yaitu:

  •  Gagang terbuat dari kayu bulat diameter ± 2 cm dan panjang 15 cm.
  •  Mata pisau terbuat dari baja keras yang satu sisinya bergerigi antara 12 – 16 gerigi sepanjang 1 inci.
Pemotongan padi dengan sabit dapat dilakukan dengan cara potong atas, potong tengah dan potong bawah tergantung cara perontokan. Pemotongan dengan cara potong bawah dilakukan bila perontokan dengan cara
dibanting/digebot atau meng-gunakan pedal thresher. Pemotongan dengan cara potong atas atau tengah dilakukan bila perontokan menggunakan power thresher.

Berikut ini cara panen padi dengan sabit biasa/bergerigi:

  • Pegang rumpun padi yang akan dipotong dengan tangan kiri, kira-kira 1/3 bagian tinggi tanaman.
  • Tempatkan mata sabit pada bagian batang bawah atau tengah atau atas tanaman (tergantung cara perontokan) dan tarik pisau tersebut dengan tangan kanan hingga jerami terputus.

(c) Cara Pemanenan Padi dengan Reaper
Reaper merupakan mesin pemanen untuk memotong padi sangat cepat. Prinsip kerjanya mirip dengan cara kerja orang panen menggunakan sabit. Mesin ini sewaktu bergerak maju akan menerjang dan memotong tegakan tanaman dan menjatuhkan atau me-robohkan tanaman tersebut kearah samping mesin reaper dan ada pula yang mengikat tanaman yang terpotong menjadi seperti berbentuk sapu lidi ukuran besar. 
Pada saat ini terdapat 3 jenis tipe mesin reaper yaitu reaper 3 row, reaper 4 row dan reaper 5 row. 

Bagian komponen mesin reaper adalah sebagai berikut :
  • Kerangka utama terdiri dari pegangan kemudi yang terbuat dari pipa baja dengan diameter ± 32 mm, dilengkapi dengan tuas kopling, tuas pengatur ke-cepatan, tuas kopling pisau pemotong yang merupakan kawat baja.
  • Unit transmisi tenaga merupakan rangkaian gigi transmisi yang terbuat dari baja keras dengan jumlah gigi dan diameter bermacam-macam sesuai dengan tenaga dan kecepatan putar yang diinginkan.
  • Unit pisau pemotong ter-letak dalam rangka pisau pemotong yang terbuat dari pipa besi, besi strip, besi lembaran yang ukurannya bermacam-macam.
  • Pisau pemotong merupakan rangkaian mata pisau berbentuk segitiga yang panjangnya 120 cm.
  • Unit roda dapat diganti-ganti antara roda karet dan roda besi/keranjang.
  • Motor penggerak bensin 3 HP – 2200 RPM.
Penggunaan reaper di-anjurkan pada daerah-daerah yang kekurangan tenaga kerja dan dioperasikan di lahan dengan kondisi baik (tidak tergenang, tidak berlumpur dan tidak becek). Menurut hasil penelitian, penggunaan reaper dapat menekan kehilangan hasil sebesar 6,1 %. 

Berikut ini cara pengoperasian mesin reaper :

  • Sebelum mengoperasikan mesin reaper, terlebih dahulu potong/panen padi dengan sabit pada ke 4 sudut petakan sawah dengan ukuran ± 2 m x 2 m sebagai tempat berputarnya mesin reaper.
  • Sebelum mesin dihidupkan, arahkan mesin pada tanaman padi yang akan dipanen. Pemanenan dimulai dari sisi sebelah kanan petakan.
  • Pemotongan dilakukan se-kaligus untuk 2 atau 4 baris tanaman dan akan terlempar satu tertumpuk di sebelah kanan mesin tersebut.
  • Pemanenan dilakukan dengan cara berkeliling dan selesai di tengah petakan.

(d) Cara Pemanenan padi dengan Reaper Binder
Reaper binder merupa-kan jenis mesin reaper untuk memotong padi dengan cepat dan mengikat tanaman yang terpotong menjadi seperti berbentuk sapu lidi ukuran besar. Bagian komponen mesin reaper binder adalah sebagai berikut :

  • Kerangka utama yang terdiri dari pegangan kemudi yang terbuat dari pipa baja dengan diameter ± 32 mm, dilengkapi dengan tuas kopling pisau pemotong yang merupakan kawat baja terserot.
  • Unit transmisi tenaga merupakan rangkaian gigi transmisi yang terbuat dari baja keras dengan jumlah gigi dan diameter bermacam-macam sesuai dengan reduksi tenaga dan kecepatan putar yang diinginkan.
  • Unit pisau pemotong merupakan rangkaian mata pisau mata pisau berbentuk segitiga yang panjangnya antara 40-60 cm.
  • Pisau pengikat terbuat dari besi plat baja, kawat baja, dan besi bulat yang ukurannya bermacam-macam.
  • Unit pengikat ini dilengkapi dengan tali yang terbuat dari yute berbentuk gulungan.
  • Unit roda dapat diganti-ganti antara roda karet dan roda besi/keranjang.
  • Motor penggerak bensin 3 HP – 2200 RPM.

Berikut ini cara pengoperasian mesin reaper binder :

  • Sebelum mengoperasikan mesin pemanen, terlebih dahulu potong / panen padi dengan sabit pada ke 4 sudut petakan sawah dengan ukuran ± 2 m x 2 m sebagai tempat berputarnya mesin stripper.
  • Sebelum mesin dihidup-kan, arahkan mesin pada tanaman padi yang akan dipanen. Pemanenan dilakukan mulai dari sisi sebelah kanan petakan.
  • Pemotongan dilakukan sekaligus untuk 1 atau 2 baris tanaman sekaligus dan akan terlempar ke sisi kanan alat, sebelum terlempar, batang jerami yang sudah terpotong diikat dengan tali pengikat melalui mekanisme pengikat pada mesin tersebut.
  • Pemanenan dilakukan dengan cara berkeliling dan selesai di tengah petakan.

C. Penumpukan dan Pengumpulan
Penumpukan dan pengumpulan merupakan tahap penanganan pasca panen setelah padi dipanen. Ketidak-tepatan dalam penumpukan dan pe-ngumpulan padi dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang cukup tinggi. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil sebaiknya pada waktu penumpukan dan pengangkutan padi  menggunakan alas. Penggunaan alas dan wadah pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil antara 0,94 – 2,36 %.

D. Perontokan
Perontokan merupakan tahap penanganan pasca panen setelah pemotongan, penumpukan dan pengum-pulan padi. Pada tahap ini, kehilangan hasil akibat ketidaktepatan dalam melakukan perontokan dapat mencapai lebih dari 5 %. Cara perontokan padi telah mengalami perkembangan dari cara digebot menjadi menggunakan pedal thresher dan power thresher.

1) Perontokan padi dengan pedal thresher
Pedal thresher merupakan alat perontok padi dengan konstruksi sederhana dan digerakan meng-gunakan tenaga manusia. Ke-lebihan alat ini dibandingkan dengan alat gebot adalah mampu menghemat tenaga dan waktu, mudah diperasikan dan mengurangi kehilangan hasil, kapasitas kerja 75 – 100 kg per jam dan cukup
dioperasikan oleh 1 orang. Unit transmisi tenaga melalui rantai sepeda dan spocket yang prinsip kerjanya sama seperti mesin jahit.
Berikut ini cara perontokan padi dengan pedal thresher :
(a) Pedal perontok diinjak dengan kaki naik turun.
(b) Putaran poros pemutar memutar silinder perontok.
(c) Putaran silinder perontok yang memiliki gigi perontok dimanfaatkan dengan memukul gabah yang menempel pada jerami sampai rontok. 
(d) Arah putaran perontok berlawanan dengan posisi operator (men-jauh dari operator).

2) Perontokan padi dengan power thresher
Power thresher merupakan mesin perontok yang menggunakan sumber tenaga penggerak enjin. Kelebihan mesin perontok ini dibandingkan dengan alat perontok lainnya adalah kapasitas kerja lebih besar dan efisiensi kerja lebih tinggi. 
Berikut ini cara perontokan padi dengan power thresher :

  • Pemotongan tangkai pendek disarankan untuk merontok dengan mesin perontok tipe “throw in” dimana semua bagian yang akan dirontok masuk ke dalam ruang perontok.
  • Pemotongan tangkai panjang disarankan untuk merontok secara manual denngan alat atau mesin yang mempunyai tipe “Hold on” dimana tangki jerami dipegang, hanya bagian ujung padi yang ada butirannya ditekankan kepada alat perontok.
  • Setelah mesin dihidupkan, atur putaran silinder perontok sesuai dengan yang diinginkan untuk merontok padi
  • Putaran silinder perontok akan mengisap jerami padi yang di-masukkan dari pintu pemasuk-kan.
  • Jerami akan berputarputar di dalam ruang perontok, tergesek terpukul dan terbawa oleh gigi perontok dan sirip pembwa menuju pintu pengeluaran jerami.
  • Butiran padi yang rontok dari jerami akan jatuh melalui saringan perontok, sedang jerami akan terdorong oleh plat pendorong ke pintu peng-eluaran jerami.
  • Butiran padi, potongan jerami dan kotoran yang lolos dari saringan perontok akan jatuh ke ayakan dengan bergoyang dan juga terhembus oleh kipas angin.
  • Butiran hampa atau benda-benda ringan lainnya akan tertiup terbuang melalui pintu pengeluaran kotoran ringan.
  • Benda yang lebih besar dari butiran padi akan terpisah melalui ayakan yang berlubang, sedangkan butir padi akan jatuh dan tertampung pada pintu pengeluaran padi bernas.

E. Pengeringan
Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air gabah sampai mencapai nilai tertentu sehingga siap untuk diolah/digiling atau aman untuk disimpan dalam waktu yang lama. Kehilangan hasil akibat ketidaktepatan dalam melakukan proses pengeringan dapat mencapai 2,13 %. Pada saat ini cara pengeringan padi telah berkembang dari cara penjemuran menjadi pengering buatan.

1) Pengeringan Padi dengan Cara Penjemuran
Penjemuran merupakan proses pengeringan gabah basah dengan memanfaatkan panas sinar matahari. Untuk mencegah bercampurnya kotoran, kehilangan butiran gabah, memudahkan pengumpulan gabah dan meng-hasilkan penyebaran panas yang merata, maka penjemuran harus dilakukan dengan menggunakan alas. Penggunaan alas untuk penjemuran telah berkembang dari anyaman bambu kemudian menjadi lembaran plastik/terpal dan terakhir lantai dari semen/beton. 

Berikut ini cara penjemuran gabah basah.

(a) Cara penjemuran dengan lantai jemur 
Dari berbagai alas pen-jemuran tersebut, lantai dari semen merupakan alas penjemuran terbaik. Permuka-an lantai dapat dibuat rata atau bergelombang. Lantai jemur rata pembuatannya lebih mudah dan murah, namun tidak dapat mengalirkan air hujan secara cepat bahkan adakalanya menyebabkan genangan air yang dapat merusakkan gabah. Lantai jemur bergelombang lebih di-anjurkan, karena dapat meng-alirkan sisa air hujan dengan cepat.  Berikut ini cara penjemuran dengan lantai jemur :
Jemur gabah di atas lantai jemur dengan ketebalan 5 cm – 7 cm untuk musim kemarau dan 1 cm – 5 cm untuk musim penghujan.
Lakukan pembalikan setiap 1 – 2 jam atau 4 – 6 kali dalam sehari dengan menggunakan garuk dari kayu.
Waktu penjemuran : pagi jam 08.00 – jam 11.00, siang jam 14.00 – 17.00 dan tempering time jam 11.00    – jam 14.00.
Lakukan pengumpulan de-ngan garuk, sekop dan sapu. 

(b) Cara penjemuran dengan alas terpal/plastik. 
Alas terpal/plastik dapat juga dipakai untuk alas penjemuran. Beberapa keuntungan penggunaan alas terpal/plastik adalah :

  •  Memudahkan pengumpulan untuk pengarungan gabah pada akhir penjemuran.
  • Memudahkan penyelamatan gabah bila pada waktu penjemuran hujan turun secara tiba-tiba.
  • Dapat mengurangi tenaga kerja buruh di lapangan.
  •  Berikut cara penjemuran dengan alas terpal/plastik :
  • Jemur gabah di atas alas terpal/plastik dengan ke-tebalan 5 – 7 cm untuk musim kemarau atau 1 – 5 cm untuk musim peng-hujan.
  • Lakukan pembalikan secara teratur setiap 1 – 2 jam sekali atau 4 – 6 kali dalam sehari. Pembalikan di-anjurkan tanpa mengguna-kan garuk karena dapat mengakibatkan alas sobek.
  • Waktu penjemuran : pagi jam 08.00 – jam 11.00, siang jam 14.00 – 17.00, dan tempering time jam 11.00 – jam 14.00.
  • Lakukan pengumpulan dengan cara langsung digulung.

2) Pengeringan Padi dengan Pengering Buatan

Pengeringan buatan merupakan alternatif cara pengeringan padi bila penjemuran dengan matahari tidak dapat dilakukan. Secara garis besar pengeringan buatan dibagi atas 3 bentuk, yaitu tumpukan datar (Flat Bed), Sirkulasi (Recirculation Batch) dan kontinyu (Continuous-Flow Dryer).

(a) Flat Bed Dryer
Flat Bed Dryer merupakan mesin pengering yang terdiri dari:

  • Kotak pengering terbuat dari plat lembaran, ber-bentuk kotak persegi panjang dengan ukuran bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Pada kira-kira bagian kotak terdapat sekat/lantai yang berlubang terbuat dari
  • plat baja lembaran, terbagi menjadi 2 ruangan, atas dan bawah.
  • Blower/kipas dan kompor panas terletak di sebelah luar kotak pengering, dihubungkan dengan cerobong.
  • Kompor pemanas memakai bahan bakar minyak tanah.

Pengeringan dengan meng-gunakan Flat Bed Dryer dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  • Padi yang akan dikeringkan di tempatkan pada kotak pengering.
  • Api dari sumber panas akan dihembuskan ke bagian/ ruangan bawah dari kotak pegering oleh blower yang digerakkan motor penggerak.
  • Udara panas naik ke ruang atau kotak pengering yang berisi padi melalui sekat yang berlubang.
  • Udara panas akan me-nurunkan kadar air padi.

(b) Continuous Flow Dryer
Continuous Flow Dryer me-rupakan mesin pengering dengan bagian komponen mesin yeng terdiri dari kotak pengering, komponen pemanas seperti kompor, kipas / blower, motor penggerak, dan screw conveyor discharge. Ruangan plenum terletak di bagian tengah butiran padi yang akan dikeringkan. Tingi kotak pengering 3 – 5 m. Bagian ini terbuat dari plat baja lembaran dan tebalnya 2 – 3 mm.
Pengeringan dengan continuous flow dryer dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Cara kerja sama dengan drier lainnya, namun padi yang akan dikeringkan diaduk posisinya oleh screw conveyor.
  • Alat ini terdiri dari kotak pengering vertikal, pemanas dan dilengkapi dengan screw conveyor dischange.
  • Gabah yang akan dikeringkan dimasukan pada bagian atas kotak pengering. Udara pemanas dihembuskan pada salah satu sisi kotak pengering dan keluar lewat sisi yang lain.
  • Pada saat pengeringan gabah terus turun ke bawah dan dikeluarkan pada bagian bawah “Screw Conveyor Dischange” yang terletak pada bagian bawah kotak pengering. Besarnya kecepatan keluarnya gabah dapat diatur.

F. Penyimpanan
Penyimpanan merupakan tindakan untuk mempertahankan gabah/beras agar tetap dalam keadaan baik dalam jangka waktu tertentu. Kesalahan dalam melakukan penyimpanan gabah/ beras dapat mengakibatkan terjadinya respirasi, tumbuhnya jamur, dan serangan serangga, binatang mengerat dan kutu beras yang dapat menurunkan mutu gabah/beras. Cara penyimpanan gabah/beras dapat dilakukan dengan : 
(1) sistem curah,
yaitu gabah yang sudah kering dicurahkan pada suatu tempat yang dianggap aman dari gangguan hama maupun cuaca, dan (2) cara penyimpanan menggunakan kemasan/wadah seperti karung plastik, karung goni, dan lain-lain.
1) Penyimpanan Gabah dengan Sistem Curah
Penyimpanan gabah dengan sistem curah dapat dilakukan dengan menggunakan silo. Silo merupakan tempat menyimpan gabah/beras dengan kapasitas yang sangat besar. Bentuk dan bagian komponen silo adalah sebagai berikut :
(a) Silo biasanya berbentuk silinder atau kotak segi-empat yang terbuat dari plat lembaran atau papan.
(b) Silo dilengkapi dengan sistem aerasi, pengering dan elevator.
(c) Sistem aerasi terdiri dari kipas-kipas angin aksial dengan lubang saluran pemasukan dan pengeluaran pada dinding silo.
(d) Pengering terdiri sumber pe-manas/kompor dan kipas peng-hembus.
(e) Elevator biasanya berbentuk mangkuk yang berjalan terbuat dari sabuk karet atau kulit serta plat lembaran.
Penyimpanan gabah/beras de-ngan silo dilakukan dengan cara sebagai berkut :

  • Gabah yang disimpan dialirkan melalui bagian atas silo dengan menggunakan elevator, dan dicurahkan ke dalam silo.
  • Ke dalam tumpukan gabah tersebut dialirkan udara panas yang dihasilkan oleh kompor pemanas dan kipas yang terletak di bagian bawah silo.
  • Kondisi gabah dipertahankan dengan mengatur suhu udara panas dan aerasi.

2) Penyimpanan Gabah dengan Kemasan/Wadah
Penyimpanan gabah dengan kemasan dapat dilakukan dengan menggunakan karung. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan gabah dengan karung adalah :
(a) Karung harus dapat melindungi produk dari kerusakan dalam pengangkutan dan atau penyimpanan.
(b) Karung tidak boleh meng-akibatkan kerusakan atau pen-cemaran oleh bahan kemasan dan tidak membawa OPT.
(c) Karung harus kuat, dapat menahan beban tumpukan dan melindungi fisik dan tahan terhadap goncangan serta dapat mempertahankan ke-seragaman. Karung harus diberi label berupa tulisan yang dapat menjelaskan tentang produk yang dikemas.

G. Penggilingan
Penggilingan merupakan proses untuk mengubah gabah menjadi beras. Proses penggilingan gabah meliputi pengupasan sekam, pemisahan gabah, penyosohan, pengemasan dan pe-nyimpanan. Bagian komponen mesin penggiling terdiri dari :
1) Motor penggerak
2) Pengupas sekam biasanya dipakai tipe roll karet. Terdapat 2 buah roll karet yang berputar berlawanan dengan kecepatan putar yang berbeda. Jarak antara 2 roll karet dapat diatur tergantung jenis gabah yang akan dikupas, biasanya 2/3 besarnya gabah. Diameter kedua roll karet sama bervariasi 300 – 500 mm dan lebar 120 – 500 mm.
3) Pemisah gabah mempunyai 3 tipe yaitu :
(a) separator tipe kompartmen, merupakan kotak oscilator terdiri dari 1, 2, 3 atau 4 lapis/dek.
(b) separator tipe dek, terdiri dari 3 sampai 7 rak dengan posisi miring, rak disusun dengan jarak 5 cm.
(c) Separator type saringan, terdiri dari ayakan saringan yang bergetar berjumlah 6 – 15 ayakan.
4) Penyosoh
(a) tipe mesin penyosoh yang dipakai untuk rice milling unit adalah tipe jet parlour.
(b) udara dialirkan melalui poros yang tipis dan lubang dari tabung.
(c) Dinding heksagonal yang berlubang membungkus tabung besi yang berputar. Jarak renggang dinding heksagonal dan tabung besi dapat diatur dengan sekrup.
(d) Unit pembawa/conveyor.

Proses penggilingan gabah dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Hidupkan mesin
2) Masukkan gabah yang akan dikupas ke dalam hoper melalui bagian atas kemudian masuk diantara kedua rol karet.
3) Atur renggang rol.
4) Hasil pengupasan berkisar 90% beras pecah kulit dan 10% gabah, tergantung perbedaaan kecepatan putaran rol. Sekam yang terkupas terpecah menjadi 2 dan utuh. Beras pecah kulit yang dihasilkan tidak banyak yang retak sehingga bila disosoh akan memperoleh persentase beras kepala yang relatif tinggi.


Pengertian Penting Panen dan Pasca Panen :

  1. Padi adalah tanaman yang bernama Oryzae sativa L.
  2. Gabah adalah hasil tanaman padi yang telah dilepas dari tangkainya dengan cara perontokkan, dikering-kan, dan dibersihkan.
  3. Gabah Kering Panen (GKP) adalah hasil tanaman padi yang telah dilepas dari tangkainya dengan cara peron-tokkan, dikeringkan, dan dibersihkan yang memiliki kadar air maksimum 25 %, butir hampa/kotoran maksimum 10 %, butir kuning/rusak maksimum 3 %, butir hijau/mengapur maksimum 10 % dan butir merah maksimum 3 %.
  4. Gabah Kering Giling (GKG) adalah hasil tanaman padi yang telah dilepas dari tangkainya dengan cara peron-tokkan, dikeringkan, dan dibersihkan yang memiliki kadar air maksimum 14 %, butir hampa/kotoran maksimum 3 %, butir kuning/rusak maksimum 3 %, butir hijau/mengapur maksimum 5 % dan butir merah maksimum 3 %.
  5. Beras adalah hasil utama dari proses penggilingan gabah hasil tanaman padi yang seluruh lapisan sekamnya terkelupas atau sebagian lembaga dan katul telah dipisahkan.
  6. Pasca Panen adalah semua kegiatan mulai dari panen sampai dengan menghasilkan produk setengah jadi (intermediate product).
  7. Produk setengah jadi adalah produk yang tidak mengalami perubahan sifat dan komposisi kimia.

Pengairan secara Intermitten

Pengairan berselang atau pengairan secara intermittent adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian. Kondisi seperti itu ditujukan antara lain untuk :
  1. Menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi menjadi lebih luas
  2. Memberi kesempatan pada akar tanaman untuk mendapatkan udara sehingga dapat berkembang lebih dalam
  3. Mengurangi timbulnya keracunan besi
  4. Mengurangi penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar
  5. Mengaktifkan jasad renik mikroba yang menghambat
  6. Mengurangi kerebahan
  7. Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah)
  8. Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen
  9. Memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah)
  10. Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, dan mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus

Cara pengelolaan air

Lakukan teknik pergiliran pengairan dalam satu musim tanam. Bibit ditanam pada kondisi tanah jenuh air dan petakan sawah dialiri lagi setelah 3-4 hari.
Pengelolaan air selanjutnya diatur sebagai berikut :
Lakukan pergiliran air selang 3 hari. Tinggi genangan pada hari pertama lahan diairi sekitar 3 cm dan selama 2 hari berikutnya tidak ada penambahan air. Lahan sawah diairi lagi pada hari ke 4. Cara pengairan ini berlangsung sampai fase anakan maksimal.
Mulai dari fase pembentukan malai sampai pengisian biji, petakan sawah digenangi terus
Sekitar 10-15 hari sebelum tanaman dipanen, petakan sawah dikeringkan
Lakukan pengairan berdasar ketersediaan air. Perhatikan ketersediaan air selama musim tanam. Apabila sumber air tidak cukup menjamin selama satu musim, maka lakukan pengairan bergilir dengan periode lebih lama sampai selang 5 hari
Lakukan pengairan dengan mempertimbangkan sifat fisik tanah. Pada tanah berpasir dan cepat menyerap air, waktu pergiliran pengairan harus diperpendek.

Cara Pengendalian Penyakit Blast

Penyakit blas yang disebabkan cendawan Pyricularia grisea kendala utama pertanaman padi gogo juga padi sawah. Serangan blas daun yang tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan anakan produktif yang menyebabkan malai kecil dengan sedikit gabah bahkan dapat menyebabkan seluruh tanaman mati sebelum berbunga. Serangannya dapat menurunkan hasil secara langsung karena leher malai busuk dan patah sehingga pengisian terganggu dan bulir padi menjadi hampa.


Pengendalian

Ketahanan Varietas. Cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit blas adalah penggunaan varietas tahan. Beberapa varietas yang masih menunjukkan reaksi tahan adalah Limboto, Danau Gaung, Situ Patenggang dan Batutegi.

Pemakaian jerami sebagai kompos. Pembenaman jerami dalam tanah sebagai kompos dapat menyebabkan  miselia dan spora dari Cendawan P. grisea mati karena naiknya suhu selama proses dekomposisi.

Penggunaan pupuk nitrogen dengan dosis anjuran. Dosis pupuk N berkolerasi positif terhadap intensitas penyakit blas, artinya semakin tinggi dosis pupuk N maka intensitas penyakit makin tinggi. Untuk itu, penggunaan pupuk N harus sesuai anjuran.

Pendekatan Kimiawi

Perlakuan benih. Pengendalian penyakit blas akan efektif apabila dilaksanakan sedini mungkin, hal ini disebabkan karena penyakit blas dapat ditularkan melalui benih. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan penggunaan fungisida sistemik seperti pyroquilon (5-10 g/kg benih).

Cara perendaman benih (soaking). Benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam dan selama periode ini larutan diaduk selama merata setiap 6 jam. Perbandingan berat benih dan volume air adalah 1 : 2 (1 kg benih : 2 liter air). Benih yang telah direndam dianginkan dalam suhu kamar di atas kertas koran dan dibiarkan sampai benih tersebut disebarkan di lahan gogo. Pada padi sawah perendaman dalam larutan fungisida dilakukan sebelum pemeraman.

Cara pelapisan (coating). Cara ini lebih efektif dari pada cara pertama dan lebih cocok untuk lahan kering (gogo). Benih dibasahi dengan cara merendam beberapa jam kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida yang digunakan dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih basah dan dikocok sampai merata, benih dikeringanginkan dengan cara yang sama seperti metode sebelumnya dan selanjutnya siap tanam.

Penyemprotan tanaman. Efikasi fungisida untuk perlakuan banih hanya bertahan 6 minggu dan selanjutnya perlu diadakan penyemprotan tanaman. Aplikasi penyemprotan untuk menekan serangan penyakit blas leher adalah dua kali yaitu pada saat anakan maksimum dan awal berbunga (heading 5%).

Beberapa fungisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit blas adalah yang mengandung bahan aktif isoprotionalane, benomyl+mancoseb, kasugamycin dan thiophanate methyl. 

Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas :

1. Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah.
2. Hindarkan penggunaan pupuk N di atas dosis anjuran.
3. Hindarkan tanam padi terus-menerus sepanjang tahun dengan varietas yang sama.
4. Sanitasi lingkungan harus intensif, karena inang alternatif patogen khususnya kelompok rerumputan sangat potensial sebagai inokulum awal.
5. Hindari tanam padi terlambat dari petani disekitarnya.
6. Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 40 hari setelah sebar.
7. Penyemprotan fungisida sistemik minimum sekali pada awal berbunga untuk mencegah penyakit blas leher dapat dianjurkan untuk daerah endemik blas.
8. Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung).
9. Pemakaian jerami sebagai kompos.

Cara Menetralkan Tanah Masam dan Basa

Pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan tanaman:
Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman. Pada umumnya unsur hara akan mudah diserap tanaman pada pH 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara akan mudah larut dalam air.
Derajat pH dalam tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Jika tanah masam akan banyak ditemukan unsur alumunium (Al) yang selain meracuni tanaman juga mengikat phosphor sehingga tidak bisa diserap tanaman. Selain itu pada tanah masam juga terlalu banyak unsur mikro yang bisa meracuni tanaman. Sedangkan pada tanah basa banyak ditemukan unsur Na (Natrium) dan Mo (Molibdenum)
Kondisi pH tanah juga menentukan perkembangan mikroorganisme dalam tanah. Pada pH 5,5 – 7 jamur dan bakteri pengurai bahan organik akan tumbuh dengan baik. Demikian juga mikroorganisme yang menguntungkan bagi akar tanaman juga akan berkembang dengan baik.
Setelah kita mengukur pH tanah dan telah kita ketahui keasamannya lalu apa yang akan kita perbuat pada tanah kita tersebut?

Jika pH tanah yang kita ukur tadi tidak sesuai harapan kita tentunya kita akan mencoba mengubah pH tanah tersebut sesuai dengan yang kita harapkan. Sebenarnya setiap tanaman memerlukan pH tertentu yang spesifik untuk pertumbuahnnya yang optimal, akan tetapi pH tanah yang ideal untuk semua jenis tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura di Indonesia adalah antara 6 sampai 7. Jika pH tanah kita sudah menyimpang dari kisaran tersebut maka segeralah mengatasinya. Sebagai contoh jika pH tanah dibawah 6 itu berarti tanah masam dan jika lebih dari 7 berarti basa.


Mengatasi Tanah Masam

Pengapuran untuk meningkatkan pH dan mengatasi keracunan Al. Untuk mengatasi kendala kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi dapat dilakukan pengapuran. Kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi dapat dinetralisir dengan pengapuran. Pemberian kapur bertujuan untuk meningkatkan pH tanah dari sangat masam atau masam ke pH agak netral atau netral, serta menurunkan kadar Al. Untuk menaikkan kadar Ca dan Mg dapat diberikan dolomit, walaupun pemberian kapur selain meningkatkan pH tanah juga dapat meningkatkan kadar Ca dan kejenuhan basa. Terdapat hubungan yang sangat nyata antara takaran kapur dengan Al dan kejenuhan Al. Dosis kapur disesuaikan dengan pH tanah, umumnya sekitar 3 t/ha, berkisar antara 1-5t/ha. Kapur yang baik adalah kapur magnesium atau dolomit yang dapat sekaligus mensuplai Ca dan Mg.
Pemberian Bahan Organik. Bahan organik selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga mempunyai peran penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah. Bahan organik dapat meningkatkan agregasi tanah, memperbaiki aerasi dan perkolasi, serta membuat struktur tanah menjadi lebih remah dan mudah diolah. Bahan organik tanah melalui fraksi-fraksinya mempunyai pengaruh nyata terhadap pergerakan dan pencucian hara. Asam fulvat berkorelasi positif dan nyata dengan kadar dan jumlah ion yang tercuci, sedangkan asam humat berkorelasi negatif dengan kadar dan jumlah ion yang tercuci. Penyediaan bahan organik dapat pula diusahakan melalui pertanaman lorong (alley cropping). Selain pangkasan tanaman dapat menjadi sumber bahan organik tanah, cara ini juga dapat mengendalikan erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman Flemingia sp. dapat meningkatkan pH tanah dan kapasitas tukar kation serta menurunkankejenuhan Al. Petani menyadari bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah. Menurut mereka, pengaruh pupuk organik dalam memperbaiki kesuburan tanah kurang spontan akan tetapi pengaruhnya lebih tahan lama. Sedangkan pupuk buatan pengaruhnya spontan akan tetapi hanya tahan beberapa minggu atau bulan. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk hijau, kotoran ternak, bagas, dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman bahwa pengusahaan tanaman semusim yang sebagian besar biomasanya tidak dikembalikan, lebih cepat menguras zat makanan yang ada di tanah, mereka mulai belajar mengembalikan sisa-sisa panen ke lahan.
Pemberian Pupuk Phospat. Kekahatan P merupakan salah satu kendala utama bagi kesuburan tanah masam. Tanah ini memerlukan P dengan takaran tinggi untuk memperbaiki kesuburantanah dan meningkatkan produktivitas tanaman. Untuk mengatasi kendala kekahatan P umumnya menggunakan pupuk P yang mudah larut seperti TSP, SP-36, SSP, DAP. Pupuk tersebut mudah larut dalam air sehingga sebagian besar P akan segera difiksasi oleh Al dan Fe yang terdapat di dalam tanah dan P menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Fosfat alam dengan kandungan Ca setara CaO yang cukup tinggi (>40%) umumnya mempunyai reaktivitas tinggi sehingga sesuai digunakan pada tanah-tanah masam. Sebaliknya, fosfat alam dengan kandungan sesquioksida tinggi (Al2O3 dan Fe2O3) tinggi kurang sesuai digunakan pada tanah-tanah masam.
Pengaturan sistem tanam. Pengaturan sistem tanam sebenarnya hanya bersifat untuk mencegah keasaman tanah atau mencegah kemasaman tanah yang lebih parah. Hal ini berkaitan erat dengan artikel maspary yang berjudul  Mengatasi Tanah Asem- asemen Pada Padi Sawah.  Pemberaan. Untuk mempertahankan kesuburan tanah, petani memberakan lahan [Bahasa Jawa: bero] atau membiarkan semak belukar tumbuh di lahan yang telah diusahakan beberapa musim. Menurut mereka, tanaman akan tumbuh lebih baik pada lahan yang sebelumnya diberakan. Bera dengan hanya mengandalkan suksesi alami memerlukan waktu lebih lama untuk mengembalikan kesuburan tanah. Tumpanggilir. pengusahaan satu jenis tanaman semusim saja selama tiga tahun berturut-turut menyebabkan tanah menjadi “kurus” dan “cepat panas”. Menurut pengamatan petani, jenis tanaman pangan yang banyak menguras zat makanan dalam tanah [Bhs.Jawa : ngeret lemah] adalah ubikayu, ketela rambat dan kacang tanah. Tumpangsari. Beberapa petani juga melakukan tumpangsari di lahan mereka. Pada umumnya dasar keputusan petani untuk memilih sistem tumpangsari adalah karena alasan ekonomi, bukannya kesadaran untuk mempertahankan kesuburan tanah. Misalnya pendapatan petani dari hasil tumpangsari jagung dan padi ternyata lebih besar dari hasil jagung atau padi monokultur. Pencegahan erosi. Pada dasarnya petani menyadari pentingnya pencegahan erosi di lahan mereka, terutama pada lahan yang curam. Beberapa usaha yang telah dicoba adalah dengan membuat guludan sejajar kontur atau menggunakan batang pohon yang ditebang pada saat pembukaan lahan sebagai teras-teras akan tetapi karena intensitas curah hujan yang tinggi serta struktur tanah yang kurang mantap menyebabkan guludan tersebut mudah longsor. Sebagian petani ada yang membuat guludan tegak lurus arah kontur, sehingga air limpasan bisa mengalir lebih cepat. Cara ini memang bisa mengurangi kerusakan guludan dan mempercepat pematusan karena tanaman tertentu tidak menyukai tanah yang terlalu basah, tetapi pengikisan tanah (erosi) tetap terjadi.
Pemberian Mikroorganisme Pengurai. Terdapatnya bahan organik yang belum terurai juga akan menyumbangkan tingkat keasaman tanah, pristiwa ini sering maspary lihat pada tanah-tanah sawah yang terlalu cepat pengerjaannya. Pemberian mikroorganisme pengurai akan mempercepat dekomposisi bahan organik dalam tanah sehingga akan membantu ketersediaan dan keseimbangan unsur hara. Selain itu perombakan bahan organik juga akan menyeimbangkan KTK tanah.


Mengatasi Tanah Basa

Untuk mengatasi tanah-tanah basa menurut maspary bisa dilakukan dengan cara pemberian sulfur atau belerang. Pemberian belerang bisa dalam bentuk bubuk belerang atau bubuk sulfur yang mengandung belerang hampir 100 % .  Pemberian pupuk yang mengandung belerang kurang efektif jika digunakan untuk menurunkan pH. Beberapa pupuk yang mengandung belerang yang bisa digunakan antara lain ZA ( Amonium sulfat ), Magnesium sulfat, Kalium sulfat, tembaga sulfat dan seng sulfat. Pemberian bahan organik/ pupuk organik juga bisa membantu menormalkan pH tanah.

Yang perlu diperhatikan oleh rekan-rekan Gerbang Pertanian  dalam merubah pH tanah tidaklah semudah membalikkan tangan, tidak akan selesai dalam waktu satu atau dua minggu saja akan tetapi harus dilakukan terus-menerus dari musim kemusim secara terarah baik dalam pengapuran maupun pemupukannya.

Sekian dulu pembahasan kali ini tentang ekologi tanah khususnya tentang cara mengatasi tanah masam dan tanah basa. Semoga artikel dari Gerbang Pertanian ini bisa berguna bagi petani Indonesia.