Showing posts with label Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Peternakan. Show all posts

Mengenal Gejala Dan Cara Pencegahan Penyakit ND (Newcastle disease)

Penyakit ND atau tetelo atau juga sering disebut penyakit sampar ayam atau juga pes cekak merupakan penyakit pada ayam yang terjadi karena suatu infeksi viral yang mengakibatkan gangguan pada saraf pernafasan. penyakit ini biasanya terjadi disebabkan oleh virus paramyxo.

Penyakit tetelo ini sering ditakuti oleh para peternak ayam karena penyakit ini bisa menular dalam jangka waktu yang singkat, biasanya dalam kurun waktu 3 sampai 4 hari penyakit ini akan menular ke seluruh ternak, penularan ini bisa terjadi melalui udara, peralatan, baju, sepatu, dan burung liar yang ada disekitar.

Walaupun penularan penyakit ini bisa melalui udara tetapi jangkauan wilayahnya tidak terlalu luas dan biasanya virus ini tidak akan bertahan lebih dari 30 hari pada area yang sudah dinyatakan terjangkit virus ini, bila diantara kalian belum tahu mengenai penyakit tetelo atau newcastle disease ini saya akan sedikit memberikan gambaran untuk mengenali dan memberikan penanganannya.

Gejala pada ayam yang terkena penyakit tetelo :
  1. Adanya lendir yang berlebiham di bagian trakea.
  2. Pada gangguan pernafasan biasanya mulai batuk, bersin-bersin, ngorok, dan juga nafasnya ngap-ngapan.
  3. Dilihat dari badannya ayam terlihat lesu.
  4. Nafsu makan terlihat menurun.
  5. Bila yang terkena ayam betina, produktifitas telur menurun.
  6. Kotorannya terlihat encer dan berwarna hijau.
  7. Kornea mata terlihat keruh, jenggernya berwarna biru, sayap menurun, dan jika sudah parah akan terjadi kelumpuhan saraf yang mengakibatkan kejang-kejang dan leher terpuntir.

Pencegahan agar ayam terhindar dari penyakit tetelo :
  1. Memelihara kebersihan kandang, dan kandang harus mendapatkan sinar atahari yang cukup.
  2. Langsung memisahkan bila ada ayam yang terlihat mempunyai penyakit ini, agar tidak menular.
  3. Diberikan jamu-jamu tradisional seperti kunyit, bawang, jahe, dll secara berkala agar kekuatan dan kekebalan tubuh ayam terjaga.

Penanggulangan apabila ayam sudah terkena penyakit tetelo ini :
  1. Mengkarantina ayam yang sudah positif terjangkit penyakit ini agar tidak menular, dan bila dirasa sudah terlalu parah lebih baik dimusnahkan saja.
  2. Memberikan vaksin untuk memberikan kekebalan. pada hari pertama bisa diberikan vaksin tetes mata kemudian pada hari kedua vaksin disuntikkan pada intramuskuler otot dada.

Mengapa Ayam Sakit


 
Kematian ayam secara mendadak merupakan salah satu tanda bahwa ayam mengalami sakit
(Sumber : Dok. Medion)
Ngorok, tortikolis, penurunan kualitas maupun kuantitas produksi telur, kematian mendadak, dll sering kita jumpai di peternakan ayam pedaging maupun petelur, tak terlewatkan juga pada ayam jantan, ayam kampung maupun breeding. Kondisi yang demikian menunjukkan adanya ketidakseimbangan interaksi yang terjadi baik kondisi hospes (ayam,red), bibit penyakit maupun kondisi lingkungan yang kurang bersahabat sehingga organ tubuh ayam tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

a) Hospes
Tak dipungkiri, adanya rekayasa genetik baik pada ayam pedaging maupun petelur, selain berdampak positif karena produksi yang lebih cepat dan tinggi ternyata memiliki dampak negatif. Pertumbuhan berat badan yang cepat tidak diimbangi dengan pertumbuhan organ dalam seperti jantung sehingga organ tersebut harus bekerja ekstra keras. Selain itu, pertumbuhan bulu pun semakin diperlambat demi efisiensi alokasi pakan guna mendapatkan karkas yang jauh lebih besar. Tak heran, sedikit gangguan/kondisi yang tidak nyaman mampu “mengobrak-abrik” sistem pertahanan tubuh ayam. Alhasil ayam pun mudah terinfeksi oleh bibit penyakit yang ada di lingkungan. Disadari atau tidak, hampir setiap saat ayam selalu kontak dengan bibit penyakit yang ada di lingkungan.
Fakta yang ada, bibit penyakit akan selalu berusaha menginfeksi ayam, namun ayam akan selalu berusaha mengeliminasi bibit penyakit. Layaknya pertahanan negara, di dalam tubuh ayam pun juga dilengkapi tentara-tentara penghalau musuh/bibit penyakit yang menginfeksi. Dengan demikian, untuk mampu menimbulkan sakit, agen bibit penyakit harus mampu melewati sederetan sistem pertahanan tersebut. Pertahanan tubuh ayam terdiri beberapa “barier” diantaranya :
  • Pertahanan fisik-mekanik
Kulit, merupakan benteng pertahanan fisik dan mekanik pertama. Kulit merupakan struktur paling luar dari tubuh yang mencegah masuknya benda asing. Kebanyakan bakteri tidak dapat bertahan hidup dalam waktu lama di kulit akibat rendahnya pH serta adanya hambatan langsung dari asam laktat dan asam lemak. Selain kulit, silia hidung dan selaput lendir juga sebagai pertahanan fisik-mekanik pada tubuh ayam yang pertama.
Setiap partikel udara yang masuk melalui rongga hidung akan mengalami proses penyaringan sehingga agen cemaran akan tertahan. Tidak semua partikel bisa tersaring, hanya partikel yang berukuran 3,7-7,0 mikron saja. Bibit penyakit yang terperangkap dalam silia hidung akan dikeluarkan oleh ayam melalui proses bersin atau batuk. Sedangkan partikel yang berukuran kecil akan lolos dari proses penyaringan silia hidung, namun akan berhadapan dengan lendir yang dihasilkan oleh selaput hidung. Lendir berperan dalam mencegah perlekatan bibit penyakit ke lapisan epitel tubuh.
Lendir mengandung enzim dan surfaktan (penurun tegangan permukaan) yang mampu membunuh agen penyakit. Lendir juga berfungsi mengencerkan/membasuh agen penyakit maupun partikel cemaran, sehingga akan mempermudah kerja silia dalam mengeliminasi. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jadinya apabila kulit, silia dan lendir mengalami gangguan dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pastilah, agen penyakit akan lebih mudah mencapai organ target.
Chronic respiratory diseases (CRD) merupakan salah satu contoh penyakit yang mampu merusak silia hidung serta sel epitel penghasil lendir. Bisa dikatakan, CRD merupakan salah satu penyakitimmunosupressant yang berperan sebagai pembuka pintu gerbang penyakit lain seperti Newcastle diseases(ND), infectious bronchitis (IB), avian influenza (AI), infectious coryza, dll.
  • Pertahanan kimiawi
Pertahanan kimiawi berhubungan dengan pertahanan tubuh yang ada di permukaan. Pengaturan derajat keasaman (pH) serta adanya enzim-enzim dalam tubuh merupakan contoh dari pertahanan kimiawi.
  • Pertahanan Biologi
Pertahanan biologi terdiri dari kekebalan seluler dan humoral. Kekebalan seluler dimainkan oleh sel darah putih. Salah satunya makrofag yang berperan dalam proses membunuh, menghancurkan dan mengeliminasi benda asing termasuk bibit penyakit. Apabila ada benda asing yang beredar dalam tubuh maka dengan gesitnya, sel-sel makrofag akan segera berkumpul dan menghancurkannya. Selain makrofag, sel darah putih yang ikut berperan dalam sistem kekebalan seluler yaitu neutrofil, basofil dan eosinofil.
Kekebalan humoral diperankan oleh antibodi. Antibodi dapat berasal dari induk (maternal antibodi), vaksinasi maupun infeksi dari lapangan. Antibodi berfungsi untuk menetralisir antigen/bibit penyakit yang berhasil masuk ke dalam tubuh ayam. Antibodi dihasilkan oleh organ limfoid. Bursa Fabricius dan thymusmerupakan sistem kekebalan primer yang paling utama. Bursa Fabricius akan tumbuh optimal pada umur muda dan akan menghilang ketika dewasa kelamin. Organ kekebalan sekunder yang berperan adalah kelenjar herderian yang terdapat pada mata, limfa, caeca tonsil, lempeng peyer di sepanjang usus maupun sumsum tulang terutama pada tulang panjang.
Pemberian pakan dengan kualitas rendah atau tercemar mikotoksin berpengaruh langsung pada kondisi kesehatan ayam
(Sumber : Anonimus)

Banyak faktor yang menyebabkan organ pertahanan tubuh tersebut tidak berfungsi optimal dan memudahkan bibit penyakit menginfeksi. Penurunan kondisi tubuh biasanya berhubungan dengan faktor kualitas maupun kuantitas pakan, kondisi stres maupun penyakit yang bersifat immunosuppressive(menekan sistem kekebalan). Stres akan memicu kelenjar adrenal memproduksi hormon corticosteroid(ACTH) dimana hormon ini akan menghambat kerja dari organ limfoid (kekebalan,red) sehingga titer antibodi yang dihasilkan menjadi tidak optimal. Contoh penyakit immunosupresant antara lain Gumboro, Mareks, mikotoksin, infeksi Reo virus yang mampu merusak kekebalan primer. Sedangkan penyakit yang mampu merusak kekebalan sekunder diantaranya Newcastle diseases, avian influenza, koksidiosis, dll.

b) Bibit Penyakit
Berdasar teori evolusi, makhluk hidup akan selalu berusaha dengan berbagai cara agar tetap bertahan. Begitu pula dengan bibit penyakit, yang selalu berusaha menginfeksi hospes agar mampu bertahan. Temperatur yang terlalu rendah, kelembaban tinggi, litter basah, kadar amonia tinggi dan tumpukan feses merupakan media empuk bagi pertumbuhan bibit penyakit. Banyaknya semak-semak atau genangan air memicu tumbuhnya jentik-jentik nyamuk yang menjadi vektor penularan penyakit leucocytozoonosis. Kemampuannya dalam menginfeksi akan sangat dipengaruhi oleh banyaknya jumlah agen penyakit, tingkat keganasan serta kondisi ayam itu sendiri. Proses desinfeksi yang “asal-asalan” saja tidak akan mampu membasmi bibit penyakit secara tuntas.
Setelah bibit penyakit mampu melewati pertahanan fisik dan mekanik, dalam menjalankan aksinya, bakteri dan virus memiliki metode yang berbeda. Setelah melewati barier tersebut, bakteri akan membentuk kolonisasi yang kemudian akan menembus organ target (sel,red). Berbeda halnya dengan virus. Virus akan menembus organ target terlebih dahulu, baru kemudian mengalami replikasi (perbanyakan diri,red).

c) Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang terkadang tidak dapat kita kendalikan. Kondisi cuaca yang ekstrim akibat efek “global warming”, curah hujan yang terlalu tinggi adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan namun dapat diantisipasi agar ayam di dalam kandang tetap merasa nyaman.
Suhu dan kelembaban yang tidak sesuai akan berdampak pada gangguan pernapasan. Suhu yang nyaman bagi ayam adalah 25-28OC dengan kelembaban berkisar 60-70%. Apabila kelembaban terlalu rendah (<50 akan="" aktivitas="" alhasil="" bibit="" dengan="" font="" hidung="" kering="" lendir="" maka="" melewati="" menjadi="" menyebabkan="" mudah="" mukosa="" penyakit="" pertahanan="" pertama.="" produksi="" sehingga="" serta="" silia="" terhambat.="" yang="">
Adanya gas berbahaya seperti amonia berpengaruh langsung terhadap kesehatan unggas. Amonia merupakan gas alkali yang dihasilkan dari pengomposan (decomposition) bahan organik atau subtansi nitrogen oleh bakteri dan bersifat iritasi. Semakin tinggi kadar amonia, maka iritasi yang ditimbulkan pun semakin tinggi bahkan dapat mempengaruhi produksi telur. Tingginya kadar amonia dapat disebabkan oleh kadar protein yang terlalu tinggi sehingga akan dibuang melalui feses. Tingginya kadar amonia menyebabkan produksi lendir yang berlebih sehingga akan mengganggu kerja silia. Selain itu juga menyebabkan iritasi pada konjungtiva mata.
Infrastruktur kandang yang kurang baik akan berpengaruh terhadap kualitas udara
(Sumber : Dok. Medion)

Kondisi suhu, kelembaban dan kadar amonia yang tidak sesuai dapat diakibatkan oleh manajemen yang kurang bagus. Jarak kandang terlalu dekat, infrastruktur kandang kurang baik, buka tutup tirai yang tidak sesuai ditambah tidak adanya aliran angin mengakibatkan terganggunya sirkulasi udara. Kondisi litter lembab, tumpahan air pada litter, feses yang menumpuk berdampak pula pada tingginya amonia dalam kandang.

Bagaimana Penyakit Menular?
Penularan penyakit dapat terjadi secara vertikal yaitu ditularkan dari induk ke anak maupun secara horizontal yaitu dari ayam sehat kontak langsung dengan ayam sakit atau melalui perantara seperti peralatan peternakan, alas kaki, dll yang tercemar atau via hewan perantara seperti tikus dan serangga. CRD, colibacilosis, EDS merupakan contoh penyakit yang dapat ditularkan secara vertikal maupun horizontal. Sedangkan AI, ND, korisa, Gumboro merupakan contoh penyakit yang hanya dapat ditularkan secara horizontal.

Bagaimana Agar Ayam Tidak Sakit?
Dalam pengendaliannya pun, maka yang perlu kita perhatikan antara lain:
a)   Mempertahankan kondisi ayam tetap prima
Dalam rangka mempertahankan kondisi ayam agar tetap prima dapat dilakukan dintaranya:
  • Manajemen brooding yang optimal
Pada 2 minggu pertama, pertumbuhan ayam pedaging sangat menentukan keberhasilan pada fase berikutnya. Pada masa ini terjadi pertumbuhan organ-organ vital ayam seperti saluran pencernaan, organ limfoid (pembentuk kekebalan tubuh,red), dll. Sebagai contoh apabila pada pemeliharaan ini terjadi gangguan pada pertumbuhan organ limfoid, maka respon terhadap vaksin menjadi kurang optimal. Sedangkan pada ayam petelur, manajemen pada fase starter dan grower akan sangat mempengaruhi pada fase produksi.
  • Pemenuhan kebutuhan pakan baik secara kualitas maupun kuantitas
Pakan memegang peranan besar dalam memacu pertumbuhan. Berikanlah pakan sesuai kebutuhan dan pastikan kualitasnya memenuhi standar. Jangan sekali-sekali memberikan pakan yang sudah menggumpal atau mengandung jamur. Gunakan metode sistem FIFO “First In First Out” (pakan yang datang awal di gunakan terlebih dahulu) untuk menghindari kesempatan jamur tumbuh. Perhatikan pula tempat penyimpanan baik suhu, kelembaban serta pastikan aman dari tikus/serangga lainnya.
  • Pemberian air minum sesuai standar
Secara fisiologis air berfungsi sebagai media berlangsungnya proses kimiawi di dalam tubuh. Air juga berperan dalam pengangkut zat nutrisi, sisa metabolisme, mempermudah proses pencernaan ransum, pengaturan suhu tubuh, melindungi sistem saraf maupun melumasi persendian. Besarnya peranan air dalam tubuh, maka kuantitas dan kualitas air harus terpenuhi. Air minum yang berkualitas adalah yang memenuhi standar secara fisik, kimia maupun biologi. Tolak ukur fisik dari air berkualitas meliputi air tidak berwarna (jernih), tidak berbau dan berasa, dan tidak ada partikel lumpur serta suhu berkisar 20-24OC. Secara kimiawi, air harus memiliki pH netral, tidak sadah. Sedangkan secara biologi, air harus bebas dari cemaran bakteri Escherichia coli, salmonella sp. ataupun coliform lainnya.
  • Vaksinasi
Vaksinasi bertujuan menggertak sistem kekebalan tubuh guna menghasilkan antibodi. Program vaksinasi perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Keseragaman dosis vaksin yang diterima oleh ayam perlu diperhatikan serta pada saat vaksinasi, pastikan ayam dalam kondisi sehat. Jika aplikasi via air minum, gunakan air yang berkualitas. Jika aplikasi melalui injeksi, pastikan alat suntik dalam kondisi steril dan jarum masih tajam untuk menghindari terjadinya peradangan pada area bekas injeksi.
  • Pemberian multivitamin
Vitamin merupakan sediaan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh namun tidak dihasilkan oleh tubuh itu sendiri kecuali vitamin C. Pemberian multivitamin seperti Vita StressStrong n FitAminovitFortevitberperan untuk meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh ayam. Defisiensi vitamin A dan C akan menyebabkan ketidakmulusan selaput lendir. Selain vitamin, dalam pakan dapat ditambahkan imbuhan pakan seperti Top MixMineral Feed Supplement A guna memacu pertumbuhannya serta meningkatkan efisiensi pakan.
Feed suplement, salah satunya bertujuan untuk memperbaiki konversi ransum
(Sumber : Dok. Medion)

  • Meminimalkan faktor stres
Stres pada ayam dapat diakibatkan karena heat stress (stres panas), cold shock, kegaduhan, dll. Sehingga untuk meminimalkannya, perlu dicari akar permasalahan penyebab ayam tidak nyaman untuk selanjutnya diantisipasi.
  • Cleaning program
Cleaning program merupakan suatu kegiatan pemberian antibiotik namun ayam belum menunjukkan gejala klinis yang nyata. Hal ini di lakukan guna membunuh bibit penyakit yang sedang dalam masa inkubasi (masa dimana bibit penyakit masuk ke dalam tubuh sampai menimbulkan gejala klinis). Penentuancleaning program berdasarkan sejarah pemeliharaan sebelumnya. Sebagai contoh, pada ayam pedaging sering terserang CRD pada umur 24 hari. Maka pada pemeliharaan berikutnya, dapat dilakukan pemberian antibiotik seperti Proxan-SNeo Meditril atau Doctril pada umur 19 hari selama 5 hari berturut-turut. Dengan demikian, kerugian pun dapat diminalisir.
b)   Meminimalkan bibit penyakit
Biosecurity merupakan kata kunci dari proses pengendalian bibit penyakit. Tanpa penerapan biosecurity, maka dapat dipastikan bibit penyakit akan tetap bercokol di dalam kandang.
  • Kosong kandang optimal dan sistem “all in all out
Kedua hal tersebut merupakan suatu usaha untuk memutus rantai siklus hidup penyakit. Pada prinsipnya, agen bibit penyakit memerlukan hospes untuk mampu mempertahankan hidup. Dengan demikian, semakin lama kosong kandang maka bibit penyakit akan semakin lama pula menemukan hospes barunya sehingga akan mengalami penurunan tingkat keganasannya dan akhirnya mati.
Istirahat kandang direkomendasikan minimal 2 minggu terhitung sejak kandang bersih. 2-3 hari sebelumchick in, lakukan penyemprotan kandang kembali dengan desinfektan. Jika sistem pemeliharaan tidak memungkinkan dengan sistem all in all out (terutama di ayam petelur) maka untuk meminimalisir kejadianoutbreak penyakit, dalam operasional kesehariannya pemeliharaan dilakukan dari ayam kecil terlebih dahulu kemudian baru ke kandang ayam dewasa.
  • Desinfeksi dan sanitasi
Lakukan kegiatan desinfeksi dan sanitasi. Kegiatan tersebut meliputi desinfeksi tempat ransum dan minum maksimal 3-4 hari sekali, egg tray, lalu lintas/kendaraan yang keluar masuk kandang, penyemprotan kandang serta sanitasi air minum dengan DesinsepMedisepAntisepNeo Antisep (pilih salah satu). Tidak ada salahnya, jika kita membatasi lalu lintas/orang yang keluar masuk kandang terutama yang tidak memiliki kepentingan. Sebelum masuk kandang, alas kaki sebaiknya disikat karena tidak menutup kemungkinan bibit penyakit bersembunyi di sela-sela alas kaki sehingga dengan penyelupan saja tidak efektif karena terhalang oleh material seperti lumpur atau tanah.
  • Pembersihan kotoran secara rutin
Terutama pada ayam petelur, feses harus dibersihkan secara periodik setiap bulan. Tumpukan feses yang basah menjadi tempat tumbuhnya larva lalat, sedangkan lalat berperan sebagi salah satu vektor pembawa penyakit.
  • Pengendalian hewan liar dan vektor penyakit
Kumbang, nyamuk, semut, lalat, siput, burung, dll berperan sebagai vektor (pembawa) bibit penyakit. Berikut contoh jenis vektor yang dapat menularkan penyakit:

Fogging untuk meminimalkan populasi nyamuk di lingkungan kandang
(Sumber : Dok. Medion)

Jadi dalam konsep biosecurity, keberadaan vektor tersebut tidak boleh diabaikan. Jika memang diperlukan pestisida, maka pergunakan sebijaksana mungkin karena penggunaan yang tidak sesuai justru menjadi malapetaka (toksik,red) bagi ayam.
  • Isolasi ayam sakit
Ayam sakit merupakan sumber penularan bibit penyakit yang utama. Pada kasus korisa, konsentrasi bakteri tertinggi terdapat pada lendir. Sedangkan pada kasus colibacilosis, konsentrasi bakteri tertinggi terdapat pada kotoran. Dengan demikian, ayam yang sakit sebaiknya segera dipisahkan sehingga penularan dapat diminimalkan. Pada saat melakukan pemeriksaan patologi anatomi (bedah bangkai, red), hindari lokasi yang terlalu dekat dengan kandang.
Kandang isolasi, berperan dalam meminimalkan penularan bibit penyakit
(Sumber : Dok.Medion)

c)  Memberikan kondisi lingkungan kandang yang nyaman untuk ayam
Kondisi lingkungan yang nyaman meliputi ketercukupannya udara, air dan pakan baik secara kualitas maupun kuantitas. Untuk mendapatkan kondisi yang demikian dapat dilakukan diantaranya :
  • Ketebalan litter minimal 8-12 cm
Selain berfungsi untuk menahan panas sehingga mampu memberikan rasa hangat tubuh ayam, litterberfungsi menyerap feses sehingga meminimalkan kadar amonia. Jika terdapat litter yang basah, terutama di area sekitar tempat minum, segera diambil dan taburi dengan sekam yang baru guna menghindari berkembangnya bibit penyakit
  • Pengaturan ventilasi udara
Pengaturan ventilasi udara seperti buka tutup tirai sangat diperlukan terutama pada kondisi fluktuatif seperti saat ini. Selain itu, pengaturan ventilasi udara akan membantu kelancaran sirkulasi udara dari luar ke dalam kandang sehingga kadar amonia terkendali
  • Pengaturan kelembaban dan suhu
Kelembaban dan suhu harus selalu dijaga agar tetap stabil sehingga tidak mempengaruhi produktivitas ayam. Apabila cuaca terlalu panas, antisipasi dengan atap monitor atau penggunaan sistem hujan buatan sehingga kondisi di kandang tidak terlalu panas. Untuk pengaturan kelembaban, jangan sepelekan tampias hujan karena tampias hujan yang masuk ke kandang akan menyebabkan litter lembab sehingga bisa menjadi sarang bibit penyakit. Penanaman pohon besar di sekitar kandang juga harus dihindari karena akan mempengaruhi suhu dan kelembaban kandang.
Tiga kalimat kunci agar ayam tidak sakit yaitu dengan mempertahankan ayam tetap dalam kondisi prima, meminimalkan tantangan bibit penyakit di lapangan serta memberikan lingkungan yang nyaman untuk ayam. Ketidakseimbangan ketiga faktor tersebut akan berdampak negatif pada produktivitasi ayam. Salam

Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Sudah Tepatkah Diagnosa ND, AI atau IB


Salah satu tujuan dari peternakan ayam petelur adalah mendapatkan produksi telur yang optimal. Namun bagaimana bila terdapat gangguan penurunan produksi telur? Tentu hal ini akan menurunkan tingkat produksi. Banyak faktor yang harus dievaluasi terhadap penyebab penurunan produksi telur tersebut diantaranya pakan, kondisi lingkungan, stres, kualitas ayam saat masa starter, grower atau setelah memasuki fase produksi serta penyakit.
Berbicara mengenai penyakit viral yang dapat menurunkan produksi telur, yang paling sering adalah ND (Newcastle disease), IB (infectious bronchitis), AI (avian influenza) dan EDS (egg drop syndrome). Dari hasil pengumpulan data di lapangan sebanyak 2428 kasus penyakit pada ayam layer di tahun 2009, ND, IB dan AI menunjukkan persentase masing-masing 10,63%, 2,84 % dan 1,85 %.
Tabel 1. Ranking penyakit pada ayam layer tahun 2009
Sumber : Data Technical Service Medion, 2009

Berdasarkan pengamatan di lapangan, memang relatif sulit membedakan kasus ND, AI maupun IB. Hal ini dikarenakan adanya gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi yang relatif sama antara ketiga penyakit tersebut. Terlebih lagi kita dibingungkan dengan isu penyakit tertentu misalnya AI sehingga persepsi diagnosa kita mengarah ke AI meski bisa saja kasus yang terjadi adalah ND. Agar tidak terjadi kesalahan dalam mendiagnosa ND, AI maupun IB maka perlu dipelajari gejala-gejala penyakitnya secara detail.
Dalam mendiagnosa penyakit maka yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan data-data berupa anamnesa, gejala klinis, serta perubahan patologi anatomi (bedah bangkai) dan juga uji laboratorium jika diperlukan.
1.   Anamnesa
Keterangan dari peternak merupakan informasi penting untuk mengarahkan diagnosa. Keterangan yang diperlukan antara lain umur dan tipe ayam, persentase kematian, lamanya penularan penyakit, sejarah vaksinasinya, kasus penyakit pada periode pemeliharaan sebelumnya, dll.
Pengamatan terhadap pola penularan penyakit dapat memberikan gambaran diagnosa. Menurut Tabbu (2002), pada infeksi alami leleran hidung yang mengandung virus ND akan dibebaskan dari ayam sakit sebagai akibat replikasi virus tersebut di dalam saluran pernapasan. Virus ND yang diekskresikan (dikeluarkan,red) bersama feses akan menyebar dengan lambat, terutama jika ayam tidak kontak secara langsung dengan ayam sakit. Masa inkubasi (waktu mulai bibit penyakit menginfeksi sampai munculnya gejala klinis) berkisar antara 2-15 hari dan rata-rata 5-6 hari.
Virus AI ditularkan dengan kontak langsung dari unggas peka melalui leleran hidung, konjungtiva dan feses. Penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung seperti melalui debu, ransum, air minum maupun peralatan kandang yang terkontaminasi oleh virus AI. Masa inkubasi sangat cepat yaitu berkisar beberapa jam sampai 3 hari.
Masa inkubasi pada kasus IB hampir mirip dengan AI yaitu berkisar antara 18-36 jam. Penularan dapat terjadi melalui leleran hidung ataupun feses ayam yang sakit.
Penyakit ND, AI maupun IB dapat menunjukkan angka kematian tinggi. Pada kasus ND dan AI, dapat menyebabkan kematian hingga 90–100 % . Terlebih lagi jika ayam belum pernah divaksin AI, maka kematian drastis dan bahkan mencapai 100 % dalam waktu 3 hari. Sedangkan anak ayam yang terserang IB, tingkat kematian berkisar 0-40%, berbeda dengan ayam fase produksi yang mencapai 25%. Namun, banyaknya tingkat kematian tersebut juga dipengaruhi oleh jumlah maupun tingkat keganasan virus tantang yang ada di lapangan.

2.   Gejala Klinis
     a.  Penurunan produksi telur
Permasalahan yang paling terlihat nyata pada peternakan ayam layer yang sudah memasuki masa produksi adalah terjadinya penurunan produksi telur. Namun untuk mendiagnosa tidak hanya semata-mata berdasarkan penurunan produksi telur. Tetapi juga dari segi penurunan kualitas telur . Ketiga penyakit viral tersebut dapat menunjukkan warna telur yang pucat hingga berwarna putih dan terkadang kerabangnya tipis maupun lembek.

 
                                                                                                                (a)                                                 (b)
Kerabang telur pucat (a); putih telur encer spesifik penyakit IB (b)
(Sumber : 
www.theranger.co.uk & Dok. Medion)

Serangan penyakit IB mampu menurunkan produksi telur hingga 60% dalam waktu 6-7 minggu. Penurunan produksi telur selalu diikuti dengan penurunan kualitas telur seperti gangguan bentuk telur, kerabang lembek dan cairan albumin (putih telur) lebih encer daripada biasanya. Putih telur yang encer merupakan ciri spesifik dari penyakit IB. Selain putih telur encer, terkadang juga ditemukan darah di dalam albumin atau kuning telur (blood spot). Sedangkan penurunan produksi pada AI dapat mencapai 80% dan ND bisa mencapai 100% dalam waktu cepat.

     b.  
Feses (kotoran ayam)
Feses juga bisa memberikan rambu untuk mengarahkan penyakit, namun tidak terlalu spesifik. Pada kasus AI, warna feses cenderung hijau pupus yang kadang disertai darah dan lendir yang dominan sehingga bentuknya seperti pasta dan menempel pada pantat. ND cenderung menunjukkan manifestasi feses berwarna hijau lumut campur keputihan dan biasanya lebih encer jika dibandingkan pada kasus AI. Tetapi yang perlu dicatat, jika peternak tidak biasa mengamati perubahan feses tersebut maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut karena pengamatan feses ini tidak bisa dijadikan patokan utama untuk menyimpulkan diagnosa.

 
                                                                  (a)                                             (b)
Feses berwarna hijau dan bercampur lendir pada kasus AI (a);
feses berwarna hijau campur warna keputihan dan cenderung encer pada kasus ND (b)
(Sumber : Tony Unandar)

     c.  Gejala tortikolis (leher terpuntir)
Gejala tortikolis selama ini identik dengan diagnosa ND sehingga penyakit ND sering disebut dengan istilah “tetelo”. Namun jika ditelaah lebih lanjut, tidak selamanya gejala tersebut spesifik mencirikan ND. Pada beberapa kasus AI dapat ditemukan pula kejadian tortikolis meskipun presentasinya sedikit. Gejala tortikolis ini juga spesifik pada serangan penyakit AE (Avian Enchephalomyelitis) dan SMS (Spiking Mortality Syndrome) namun sering disertai dengan tremor (gemetar,red) seluruh tubuh.

     d.  
Gejala pernapasan
Ketiga virus penyebab penyakit ND, AI dan IB selain menyerang saluran reproduksi, juga menyerang saluran pernapasan Manifestasi yang nampak adalah adanya gangguan pernapasan seperti ngorok, bersin, batuk, megap-megap, kesulitan bernapas maupun keluarnya leleran lendir dari hidung ataupun mulut.

3.   Perubahan Patologi Anatomi
     a.  Saluran pernapasan
Pengamatan perubahan patologi anatomi pada saluran pernapasan, akan terlihat lebih spesifik pada kasus IB dimana peradangan terjadi pada bronchus (percabangan trachea,red). Pada kasus ND terkadang menunjukkan gejala pernapasan namun tidak terlalu spesifik. Sedangkan AI, biasanya ditemukan ingus/lendir kental dalam jumlah banyak pada saluran pernapasan maupun rongga mulut sehingga ayam mengalami kesulitan dalam mengambil oksigen.
Pneumonia (radang paru-paru,red) menjadi ciri spesifik AI. Pneumonia ini mengakibatkan kurangnya kadar oksigen di dalam sistem sirkulasi darah sehingga gejala yang muncul jengger, muka dan pial akan tampak berwarna kebiru-biruan. Peradangan yang terjadi pada kasus AI lebih bersifat echimosa yaitu tipe perdarahan dalam bentuk bintik-bintik merah dengan ukuran yang tidak sama besar.
 
                                                                        (a)                                      (b)
 
                                                                      (c)                                         (d)
Lendir berlebihan pada saluran pernapasan (a); peradangan laryng (b);
trachea (c); paru-paru (d) pada kasus AI
(Sumber : Dok. Medion & Tony Unandar)
      b. Lemak jantung
ND dan AI sering menunjukkan perubahan berupa adanya perdarahan pada lemak jantung. Sedangkan pada IB tidak akan menunjukkan gejala perubahan ini. Jika dilihat dari peradangan di lemak jantung, tidak ada yang spesifik untuk membedakan kedua jenis penyakit tersebut.

      c. 
Proventrikulus
Proventrikulus menghasilkan asam klorida (HCl) yang berperan dalam membantu proses pencernaan sehingga kondisi proventrikulus menjadi asam. Pada kasus AI, perdarahan lebih terjadi di proventrikulus bagian depan dan cenderung pada perbatasan proventrikulus dan oesophagus (kerongkongan,red). Hal ini dikarenakan virus AI memiliki sifat tidak tahan asam. Jika ND yang menyerang maka besar kemungkinan peradangan terjadi pada puncak/bintik-bintik proventrikulus, namun ketika serangan sudah parah maka peradangan bisa menyeluruh pada proventrikulus.
 
                                   (a)                                         (b)
Peradangan pada perbatasan proventrikulus & esophagus kasus AI (a),
puncak proventrikulus kasus ND (b)
(Sumber : Dok. Medion)

      d. Usus
Usus terbagi menjadi usus halus, usus besar dan usus buntu. Usus tersebut merupakan organ pencernaan dimana bakteri patogen dan non patogen dapat tumbuh dengan mudah. Hampir semua jenis penyakit pada ayam menunjukkan adanya peradangan pada usus baik ringan maupun berat. Bahkan pada ayam yang tidak mau makan atau ukuran pakan yang terlalu besar juga dapat menyebabkan peradangan di usus.
Ciri spesifik ND adalah adanya peradangan pada peyer patches (lempeng peyer,red) yang disertai peradangan pada proventrikulus. Terjadinya perdarahan di usus memang agak relatif sulit dibedakan antara ND, AI ataupun dengan penyakit bakterial.
(a)
(b)
Peradangan pada usus (a); peradangan pada lempeng peyer kasus ND (b)
(Sumber : Dok. Medion)

      e. Organ reproduksi
Adanya penurunan produksi telur erat kaitannya dengan organ reproduksi. Terjadinya gangguan pada salah satu bagian organ maka manifestasinya berbeda pula.
Organ reproduksi ayam betina
(Sumber : Dok. Medion)
Keterangan gambar :
01. Ovarium 
02. Infundibulum 
03. Magnum 
04. Istmus 
05. Uterus
06. Vagina
07. Oviduct kanan
08. Ureter
09. Kloaka

Gejala putih telur encer pada IB memang diakibatkan oleh kerusakan pada oviduct (saluran telur) di bagianmagnumMagnum merupakan tempat dimana terjadi proses pembentukan albumin (putih telur, red).
Berbeda halnya dengan ND dan AI, dimana virus tersebut menyerang pada bagian ovarium/ calon kuning telur. Terkadang kuning telur mengalami pengecilan ukuran, selaput telur membengkak serta mengalami perdarahan.
 
                            (a)                                                                  (b)
Peradangan pada ovarium kasus AI (a); cystic oviduct kasus IB (b)
(Sumber : Dok. Medion)

Apabila organ reproduksi tersebut parah maka manifestasinya adalah penurunan produksi telur yang drastis serta relatif sulit untuk disembuhkan kembali. Pada beberapa tahun terakhir ini, manifestasi IB sering berupacystic oviduct dimana terdapat penimbunan cairan bening dengan volume hingga 1,5 liter di oviduct.
Dari anamnesa, gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi yang jelas dan spesifik, kita dapat menyimpulkan diagnosa penyakit yang sedang menyerang. Sehingga kita sudah dapat mengambil langkah yang tepat. Sebagai contoh, apabila data-data yang dikumpulkan mengarah ke kasus ND maka kita dapat segera melakukan revaksinasi darurat dengan Medivac ND Clone 45.Jika ayam terindikasi IB maka dapat segera dilakukan revaksinasi menggunakan Medivac IB H-120. Namun yang perlu diingat, revaksinasi sebaiknya dilakukan pada ayam-ayam yang terlihat masih agak sehat. Sedangkan pada ayam-ayam yang sudah parah sebaiknya diafkir. Setelah dilakukan revaksinasi darurat, perlu diberikan vitamin seperti Vita Stress atau Fortevitguna meningkatkan stamina ayam serta membantu pemulihan kesehatan. Yang tidak boleh terlupakan adalah tetap memperketat biosekuriti serta mengurangi faktor penyebab stres pada ayam.
Medivac ND Clone 45 untuk vaksinasi pertama, revaksinasi dan vaksinasi darurat.
(Sumber : Dok. Medion)

Pada beberapa kasus di lapangan, meskipun sudah dilakukan pencarian data meliputi riwayat kasus, gejala klinis, perubahan patologi anatomi, namun belum ada yang spesifik untuk mengindikasikan suatu penyakit. Dalam menghadapi kondisi yang demikian, maka diperlukan data pendukung berupa uji serologi. Uji yang dilakukan berupa HI Test (Haemagglutination Inhibition Test) atau ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay). SampeI yang digunakan untuk uji serologi ini adalah serum sebanyak 0,5 % dari total populasi atau minimal 15-20 sampel tiap flok. Tujuan uji HI test atau ELISA tersebut adalah untuk mengetahui gambaran titer antibodi dalam tubuh ayam sehingga terdapat kemungkinan gambaran titer yang terbaca merupakan indikasi adanya virus tantang di lapangan.
Dalam beberapa kasus di ayam broiler, ayam tidak menunjukkan gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi namun dalam 3 hari kematian mencapai 90%. Ketika dilakukan uji serologi HI test terhadap AI, semua sampel tidak menunjukkan adanya titer antibodi dan ayam belum pernah divaksin. Dalam menyimpulkan data-data seperti ini, peternak pun terkadang masih ragu apakah diagnosa tersebut AI. Namun jika dilihat dari tingkat kematian, diagnosa bisa mengarah ke AI.
Untuk mengetahui secara pasti virus penyebab sakit tersebut, dapat dilakukan uji PCR (Polymerase Chain Reaction) dimana pada uji ini berfungsi untuk mendeteksi ada tidaknya virus di dalam tubuh ayam. Uji PCR menggunakan sampel berupa organ ayam yang mengalami perubahan patologi anatomi, swab (usap,red)trachea atau kloaka. Sampel yang akan diuji tidak boleh dicuci dengan menggunakan desinfektan karena virus akan mati. Hasil dari uji PCR ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam perbaikan manajemen dan kesehatan ayam pada pemeliharaan berikutnya.

Mengapa Harus Tepat Diagnosa?
Terkadang banyak peternak mengeluhkan karena meskipun sudah diobati ataupun dilakukan revaksinasi darurat, namun produksi tidak kunjung pulih padahal juga sudah didukung dengan biosekuriti yang ketat. Hal tersebut bisa saja terjadi karena adanya kesalahan diagnosa penyakit.
Ketika gejala-gejala adanya infeksi penyakit ditangani sedini mungkin maka tidak menutup kemungkinan produksi dapat pulih kembali. Pada beberapa kasus ND proses recovery (pemulihan,red) produksi telur memerlukan waktu yang relatif lebih singkat dibandingkan proses recovery pada kasus IB meskipun produksi tidak seoptimal seperti sebelumnya.
Selain untuk mendapatkan penanganan yang tepat, manfaat lain dari diagnosa yang benar ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran untuk pemeliharaan berikutnya. Dengan demikian perlu dilakukan antisipasi sbb :
  • Evaluasi kembali program vaksinasi yang sudah ada. Jika belum tepat maka perlu dilakukan penyusunan program vaksinasi sesuai dengan kondisi di peternakan tersebut. Minimal dilakukan vaksinasi pada 3-4 minggu untuk vaksin inaktif atau 2-3 minggu vaksin aktif sebelum penyakit sering terjadi sehingga ketika terdapat serangan dari virus lapangan, ayam telah memiliki antibodi yang cukup untuk melawan infeksi lapangan.
  • Pada masa produksi, perlu dilakukan monitoring / pemeriksaan titer antibodi secara rutin setiap bulan terhadap penyakit yang sering menyebabkan penurunan produksi telur terutama ND dan AI untuk mengetahui gambaran titer antibodi dalam tubuh sehingga bisa menentukan jadwal revaksinasi dengan tepat.

Jika pada pemeliharaan periode berikutnya terjadi penurunan produksi telur maka peternak perlu melakukan langkah-langkah yang sudah diuraikan di atas antara lain :
  • Mengumpulkan data secara lengkap meliputi anamnesa, gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi
  • Tidak mudah terpengaruh oleh isu penyakit yang sedang berkembang
  • Diskusikan dengan dokter hewan maupun technical service yang ada di lapangan
  • Lakukan uji serologi di laboratorium
Demikian, sukses dan semoga bermanfaat.


Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Cacingan pada Sapi


Tahukah Anda bahwa hampir semua sapi yang dipelihara secara tradisional menderita cacingan? Dan ironisnya masih saja banyak orang yang memandang sebelah mata penyakit ini. Secara kasat mata, memang tidak semua sapi yang menderita cacingan terlihat sakit, tetapi rata-rata menunjukkan gejala kekurusan. Tingkat keparahan yang ditimbulkan oleh serangan parasit cacing pun tergantung pada jenis cacing, jumlah cacing yang menyerang, umur sapi yang terserang serta kondisi pakan.
sapi kurus, sapi cacingan, sapi kurus karena cacingan

Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, namun secara ekonomi dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar. Oleh karena itu tidak heran kalau penyakit cacingan ini sering disebut sebagai penyakit ekonomi. Lantas apa saja kerugian-kerugian ekonomi yang ditimbukan oleh penyakit cacingan pada sapi? Ternyata cukup banyak, mulai dari penurunan berat badan, terhambatnya pertumbuhan pada sapi muda, penurunan kualitas daging, kulit dan jeroan pada ternak potong, penurunan produksi susu pada ternak perah dan bahaya penularan pada manusia. Hasil suatu penelitian menyatakan bahwa kasus cacingan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan berat badan per hari sebanyak 40% pada sapi potong dan penurunan produksi susu sebesar 15% pada sapi perah (Siregar, 2013).

Melihat fakta di atas, masihkah penyakit cacingan pada sapi dipandang sebelah mata? Sudah sepantasnya kita waspada terhadap serangan penyakit cacingan yang setiap saat selalu mengintai ternak sapi. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita mulai sedikit bernostalgia dengan penyakit yang sepanjang tahun 2012 lalu nyaris menduduki urutan paling teratas dalam hal laporan kejadian kasus di lapangan (Infovet, 2012).



Cacingan pada Sapi dan Agen Penyebabnya

Cacingan atau dalam kamus kedokteran dikenal dengan istilah helminthiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya infestasi cacing pada tubuh hewan, baik pada saluran percernaan, pernapasan, hati, maupun pada bagian tubuh lainnya. Pada sapi, umumnya infestasi cacing sering ditemukan pada saluran pencernaan dan hati.

Berdasarkan bentuknya, jenis cacing yang dapat menyerang sapi dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu cacing gilig (Nematoda), cacing pita (Cestoda) dan cacing daun atau cacing hati (Trematoda).

  • Cacing gilig (Nematoda)

Sesuai dengan namanya, cacing gilig memiliki bentuk tubuh yang bulat seperti pipa dengan kedua ujungnya yang meruncing. Sebagian besar cacing ini memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil. Beberapa spesies yang dapat menyerang ternak sapi di antaranya Toxocara vitulorumOesophagostomum radiatum,Agryostomum vryburgiBunostomum phlebotomumTrichostrongylus spp.Nematodirus spp.Cooperia spp.Ostertagia ostertagiHaemonchus placei dan Mecistocirrus digitatus.

Namun, dari beberapa spesies tersebut yang paling sering ditemukan kasusnya terutama pada pedet (sapi muda) yaitu spesies Toxocara vitulorum yang penyakitnya dikenal dengan istilah toxocariasis. Cacing yang dikenal juga dengan Neoascaris vitulorum ini habitatnya di dalam usus halus sapi dan berukuran paling besar dibandingkan spesies nematoda lainnya. Cacing jantan berukuran 250 x 5 mm, sedangkan betinanya 300 x 6 mm. Telur cacing T. vitulorum berbentuk bulat dan memiliki ciri khas dinding telur yang tebal.

Kasus toxocariasis dimulai dengan termakannya feses yang mengandung telur cacing T. vitulorum oleh sapi. Selanjutnya telur akan menetas di usus halus dan menjadi larva. Larva kemudian dapat bermigrasi (pindah) ke hati, paru-paru, jantung, ginjal, bahkan plasenta dan masuk ke cairan amnion (ketuban) serta ke dalam kelenjar ambing dan keluar bersama kolostrum. Kolostrum yang diminum oleh pedet akan menjadi sumber penularan cacing T. vitulorum. Sementara, larva yang tetap berada dalam usus akan berkembang menjadi cacing dewasa dan selanjutnya menghasilkan telur yang bisa ikut terbuang bersama feses sapi.

Dilihat dari siklus hidupnya, maka penularan kasus toxocariasis pada sapi dapat terjadi melalui pakan atau air yang terkontaminasi oleh telur maupun larva cacing dan melalui kolostrum yang mengandung larva cacing.


  • Cacing pita (Cestoda)

Jenis cacing pita yang dapat menyerang sapi ialah spesies Taenia sp.Moniezia sp. dan Echinococcus granulosus. Dari ketiga cacing tersebut, hanya spesies Moniezia sp. yang hidup sampai dewasa dalam tubuh sapi. Namun, serangan cacing pita yang paling umum ditemukan pada sapi terutama oleh genusTaenia, yaitu Taenia saginata.

Serangan cacing pita ini tidak berbahaya bagi ternak sapi itu sendiri karena dalam tubuh sapi telur cacing yang termakan bersama rumput hanya berkembang sampai fase larva. Larva cacing T. saginata yang berada dalam usus sapi selanjutnya akan menembus pembuluh darah dan ikut bersama aliran darah hingga sampai di otot. Selanjutnya, manusia perlu waspada terhadap serangan cacing pita ini, karena larva yang termakan dari daging sapi mentah atau yang dimasak kurang matang dapat berkembang menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia. Cacing pita dewasa akan menyerap sari-sari makanan dalam usus dan dapat menyebabkan penyumbatan usus.

Panjang cacing T. saginata dewasa berkisar antara 4-8 meter dan terdiri atas segmen-segmen yang disebut proglotida. Proglotida yang telah matang, atau disebut juga proglotida gravid, pada cacing dewasa berisi alat reproduksi jantan dan betina serta puluhan ribu telur. Bisa dibayangkan betapa banyaknya telur yang dihasilkan oleh 1 ekor cacing pita dewasa yang selanjutnya siap masuk kembali kedalam tubuh sapi untuk berkembang menjadi bentuk yang siap masuk ke dalam tubuh manusia.


  • Cacing hati (Trematoda)

Kasus cacingan pada sapi akibat cacing hati (Fasciola sp.) cukup banyak dan sudah tak asing lagi dijumpai di lapangan. Kejadiannya terutama banyak dilaporkan pada saat perayaan Idul Adha, dimana pada waktu tersebut banyak orang yang melakukan penyembelihan hewan kurban khususnya sapi. Terdapat 2 spesies yang cukup penting di dunia, yaitu Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica. Namun, spesies yang paling sering ditemukan pada sapi di Indonesia yaitu F. gigantica. Secara umum, cacing hati berbentuk gepeng atau pipih seperti daun, namun untuk spesies F. gigantica tubuhnya lebih memanjang dibandingkan F. hepatica. Sesuai dengan namanya cacing hati berhabitat di hati dan saluran empedu. Infestasi cacing ini dikenal dengan istilah fasciolosis.
Siklus hidup cacing F. gigantica dimulai saat cacing dewasa yang berada di hati dan saluran empedu mengeluarkan telurnya. Telur cacing ini kemudian masuk ke dalam usus halus bagian duodenum bersama cairan empedu dan selanjutnya dikeluarkan bersama feses. Di luar tubuh sapi, telur berkembang menjadi mirasidium. Untuk berkembang ke fase berikutnya, mirasidium memerlukan inang antara, yaitu siput mudaLymnaea rubiginosa.

Di dalam tubuh siput, mirasidium berkembang menjadi sporokista, redia dan serkaria. Selanjutnya serkaria yang memiliki kemampuan berenang akan keluar dari tubuh siput. Setelah menemukan tempat yang cocok, serkaria akan berubah menjadi metaserkaria yang berbentuk kista. Kista dapat berada dalam air maupun menempel pada tanaman. Selanjutnya, air dan tanaman yang mengandung kista ini akan menjadi media penularan bagi ternak sapi lainnya jika termakan.



Faktor Predisposisi (Pemicu) Cacingan

Kasus cacingan yang terjadi pada sapi disinyalir dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi predisposisi (pemicu) penyakit tersebut. Faktor-faktor tersebut di antaranya umur, musim atau kondisi lingkungan, keberadaan vektor (inang antara) dan metode pemeliharaan.

  • Umur
Jika dilihat dari umur serangannya, kasus cacingan pada sapi dapat menyerang semua umur. Namun, berdasarkan jumlah kasus yang terjadi di lapangan, pedet cenderung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap kasus cacingan. Pedet lebih rentan terserang penyakit cacingan karena memiliki daya tahan tubuh yang belum optimal.

  • Musim atau kondisi lingkungan
Kasus cacingan terutama sering ditemukan pada saat musim hujan atau kondisi lingkungan lembab dan basah yang umumnya disebabkan oleh manajemen pemeliharaan yang kurang baik. Kondisi tersebut menjadi media yang cocok untuk perkembangan telur cacing menjadi bentuk yang siap masuk ke dalam tubuh sapi.

Pada peternakan sapi skala kecil, umumnya sanitasi atau kebersihan kandang masih sangat minim, sehingga kandang lebih sering dalam kondisi yang kotor dan becek. Oleh karena itu, besar kemungkinannya sapi yang dipelihara dalam kandang seperti ini terserang cacingan.


  • Keberadaan vektor (inang antara)

Beberapa jenis cacing yang menyerang sapi membutuhkan inang antara seperti siput air tawar dalam siklus hidupnya. Pada kondisi yang lembab, hewan ini mampu hidup dan berkembang biak dengan sangat baik. Maka tak heran pada saat musim hujan siput air tawar ini sering kita jumpai karena populasinya yang bertambah banyak. Apabila dikaitkan dengan kasus cacingan pada sapi, kondisi ini tentu saja dapat meningkatkan resiko serangan parasit cacing pada ternak sapi.


  • Metode pemeliharaan
Jika ditinjau dari metode pemeliharaannya, sapi yang dipelihara dengan sistem tradisional (ekstensif) lebih beresiko terserang penyakit cacingan dibandingkan dengan sapi yang dipelihara dengan sistem yang lebih modern (intensif). Pada pemeliharaan dengan sistem ekstensif, sapi dibiarkan bebas merumput atau mencari makan sendiri di lahan penggembalaan. Padahal tidak jarang tempat-tempat yang dijadikan sebagai lahan penggembalaan tersebut telah terkontaminasi telur atau larva cacing. Sedangkan pada pemeliharaan dengan sistem intensif, sapi sepanjang hari dikandangkan dan pakan diberikan pada waktu tertentu oleh pemilik ternak. Hal ini tentu saja dapat mengurangi resiko sapi untuk kontak dengan telur maupun larva cacing.



Gejala Klinis dan Perubahan Organ (Patologi Anatomi)

Kasus cacingan pada ternak sapi umumnya berjalan secara kronis (dalam waktu yang lama), sehingga pada awal serangan gejalanya sulit untuk diamati. Secara umum sapi yang terserang cacingan badannya kurus, bulu kusam dan berdiri, mengalami diare atau bahkan konstipasi (sulit buang air besar), nafsu makan menurun dan terkadang mengalami anemia.

Berdasarkan kasus yang dilaporkan di lapangan, pedet sapi yang menderita toxocariasis menunjukkan gejala diare dan badannya menjadi sangat kurus. Pernah dilaporkan juga bahwa kasus toxocariasis pada pedet dapat menyebabkan kematian. Pedet yang bertahan hidup biasanya akan mengalami gangguan pertumbuhan. Perubahan patologi anatomi yang ditemukan pada pedet yang mati akibat serangan toxocariasis adalah terjadinya peradangan pada saluran percernaan usus halus.

Sapi dewasa yang terserang toxocariasis umumnya tidak menunjukkan gejala yang jelas. Hanya saja, infestasi cacing T. vitulorum pada sapi perah biasanya akan menurunkan kualitas susu karena mengandung larva cacing ini.

Sementara pada kasus fasciolosis, sering dilaporkan ternak sapi mengalami gangguan pencernaan berupa konstipasi dengan feses yang kering. Pada kasus yang sudah parah, seringkali sapi menunjukkan gejala diare, pertumbuhan yang terhambat bahkan terjadi penurunan produktivitas. Apabila ternak sapi dipotong, dapat kita amati adanya perubahan patologi anatomi terutama pada organ hati. Pada kasus akut (kasus penyakit berjalan singkat) akan ditemui adanya pembendungan dan pembengkakkan hati, permukaan hati biasanya akan mengalami perdarahan titik (ptechie) serta kantong empedu dan usus mengandung darah. Sementara pada kasus kronis, biasanya terjadi penebalan dinding saluran empedu dan pengerasan jaringan hati (serosis hati). Pada saluran empedu biasanya dapat ditemukan parasit cacing bahkan seringkali terdapat batu empedu.



Cara Mendiagnosa Cacingan pada Sapi

Salah satu problem tidak teridentifikasinya kasus cacingan pada sapi yaitu akibat minimnya gejala klinis yang dapat teramati. Bahkan pada kasus cacingan yang masih awal, sapi biasanya masih terlihat sehat tanpa menunjukkan adanya gejala klinis. Selain itu, gejala klinis yang muncul pada kasus cacingan pun merupakan gejala yang sangat umum sehingga kadang masih menyulitkan untuk mengarahkan diagnosa. Terkecuali jika kasus cacingan sudah sangat parah, maka dapat kita temukan adanya cacing dewasa pada feses sapi, terutama untuk cacing yang menyerang saluran pencernaan.

Untuk membantu meneguhkan diagnosa cacingan pada sapi dapat dilakukan melalui uji laboratorium, yaitu uji feses. Pemeriksaan atau uji feses bertujuan untuk mengetahui keberadaan telur cacing secara kualitatif maupun kuantitatif. Selain keberadaan telur, pada feses juga dapat ditemukan keberadaan larva cacing. Lebih jauh lagi, pada uji feses ini dapat diidentifikasi jenis cacing yang menyerang berdasarkan karakteristik telur yang ditemukan. Melalui uji ini juga kasus cacingan pada sapi dapat diidentifikasi sejak dini sehingga pengobatannya pun akan relatif lebih mudah dan kerugian ekonomi yang lebih besar dapat diminimalkan.



Pengendalian dan Penanganan Cacingan

Pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada sapi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, yaitu memutus siklus hidup dari parasit cacing tersebut. Cara ini dianggap cukup murah dan sangat efektif untuk memberantas kasus cacingan pada sapi yang selalu berulang dari tahun ke tahun. Beberapa hal yang harus diperhatikan terkait upaya pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada sapi di antaranya :
  • Program pemberian anthelmintika (obat cacing)
Pemberian anthelmintika merupakan langkah utama dalam upaya pengendalian dan penanganan cacingan baik pada pedet maupun sapi dewasa. Pemberian anthelmintika sebaiknya tidak hanya dilakukan pada ternak sapi yang telah dipastikan positif cacingan mengingat hampir sebagian besar sapi terutama yang dipelihara secara tradisional menderita cacingan. Program pemberian anthelmintika sebaiknya dilakukan sejak masih pedet (umur 7 hari) dan diulang secara berkala setiap 3-4 bulan sekali guna membasmi cacing secara tuntas dan memutus siklus hidup parasit tersebut (Agrina, 2011).

Beberapa produk anthelmintika  dapat digunakan untuk memberantas cacing gilig pada sapi yaitu Nemasol-KVermizyn SBKWormectin Injeksi dan Wormzol-B. Produk Wormzol-B selain efektif untuk semua stadium cacing gilig, dapat juga digunakan untuk memberantas cacing pita dan cacing hati dewasa pada sapi.
  • Sanitasi kandang dan lingkungan
Kasus cacingan pada sapi akan menjadi lebih sulit diberantas jika tidak ditunjang dengan sanitasi kandang dan lingkungan yang baik. Upaya yang dapat dilakukan di antaranya menjaga drainase kandang dan lingkungan di sekitarnya sehingga tidak lembab dan becek serta menghindari adanya kubangan-kubangan air pada tanah. Selain itu, tanaman dan rumput-rumput liar di sekitar kadang dibersihkan serta melakukan desinfeksi kandang secara rutin menggunakan AntisepNeo AntisepFormades atau Sporades.

  • Sistem penggembalaan dan pemberian rumput
Saat menggembalakan sapi, sebaiknya hindari tempat-tempat penggembalaan yang becek dan padang rumput yang diberi pupuk kandang tanpa diketahui dengan jelas asal usulnya. Selain itu, ternak sapi sebaiknya tidak digembalakan terlalu pagi karena pada waktu tersebut larva cacing biasanya dominan berada di permukaan rumput yang masih basah. Guna memutus siklus hidup cacing, sebaiknya sistem penggembalaan dilakukan secara bergilir. Artinya sapi tidak terus-menerus digembalakan di tempat yang sama. Pada padang penggembalaan juga dapat ditaburkan copper sulphate untuk mencegah perkembangan larva cacing hati. Untuk sapi yang dipelihara secara intensif, pemberian rumput segar sangat tidak dianjurkan. Sebaiknya rumput dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan pada sapi guna menghindari termakannya larva cacing yang menempel pada rumput.

  • Populasi inang antara

Mengingat beberapa spesies cacing membutuhkan inang antara seperti siput air tawar untuk kelangsungan hidup cacing hati, maka populasinya menjadi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengendalian dan penanganan kasus cacingan. Populasi siput air tawar dapat dikurangi dengan cara memelihara itik atau bebek yang berperan sebagai predator alami inang antara tersebut. Selain itu, lingkungan harus dijaga supaya tidak terlalu lembab dan basah karena kondisi tersebut sangat baik untuk kelangsungan hidup siput air tawar.


  • Kualitas Pakan

Percaya atau tidak, bahwa kualitas pakan mempengaruhi tingkat kejadian cacingan pada ternak sapi. Kualitas pakan, baik rumput maupun konsentrat, yang baik dapat membantu meningkatkan daya tahan ternak sapi karena nutrisi yang diperlukan tercukupi.

  • Monitoring telur dan larva cacing
Sebagaimana kita ketahui bahwa penularan kasus cacingan sangat mudah terjadi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor predisposisi. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya monitoring secara rutin (2-3 bulan sekali) terhadap telur dan larva cacing melalui uji feses. Untuk menunjang hal tersebut, saat ini Medion telah memiliki laboratorium yang dapat melayani uji tersebut, yaitu MediLab yang telah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Upaya pengendalian dan penanganan cacingan ini sebenarnya sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua kalangan peternak. Namun, untuk menunjang hal ini diperlukan sebuah komitmen dan kesadaran yang tinggi dari seluruh peternak bahwa upaya pengendalian dan penanganan kasus cacingan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Jika kedua modal utama tersebut hanya dimiliki oleh sebagian peternak, maka dapat kita ramalkan tingkat keberhasilan pun menjadi lebih kecil.

Dari seluruh bahasan diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit cacingan telah menjadi penyakit ekonomi yang menimbulkan kerugian cukup besar. Guna mengatasi kasusnya yang terus berulang diperlukan pengendalian dan penanganan dengan memutus siklus hidup cacing yang sifatnya berkelanjutan dengan ditunjang oleh komitmen dan kesadaran yang tinggi dari seluruh peternak. Salam.


Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).